Satu Arhan Dkhianati, Sejuta Laki-laki Tersakiti
Arhan Pratama.
Di kota-kota hujan Thailand yang jarang disebut,
ia menyalakan sepatu—doa yang tipis dan kabut;
tribun lengang, garis lapangan terasa kaku,
namanya bersembunyi di bawah nomor yang bisu.
marikitabaca - Cincin disimpan di laci—tak lagi sepasang,
foto keluarga tinggal bingkai di dinding yang bimbang;
telepon hening, hanya jadwal latihan
datang tepat waktu, membawa kedinginan.
Peluit berbunyi, namun bangku cadangan
adalah musim paling panjang;
namanya tak terbaca di papan pengumuman,
bendera negeri pun tak lagi memanggil pulang.
Ia ingat sorak di tanah air yang dulu—
tiap tekel seperti jalan pulang yang semu;
kini malam kota asing menidurkannya pelan,
lampu-lampu stadion bagai mata yang enggan.
Namun pagi tetap datang, dan ia bertahan,
mengikat tali sepatu dengan sisa keyakinan;
jika esok tak memberi panggilan,
hari ini ia jadikan latihan.
Sebab patah bukan garis akhir pertandingan;
selama napasnya bisa menekan umpan-umpan,
ia tahu: sepi pun bisa jadi kawan—
dan dari sunyi lahir tendangan paling tenang.
Tenang dan jangan pulang dulu, kawan;
biasakan bias sakitmu; dia memang pelacur,
pelacur dari dogma masa kini;
Kami tunggu datangmu lagi, kawan
Sumber: Unsourch