Promo

Kisah Pilu Joe Arridy: Tetap Tersenyum di Hari Kematian

Jum'at, 31 Oktober 2025 00:27 WIB | 536 kali
Kisah Pilu Joe Arridy: Tetap Tersenyum di Hari Kematian

Joe Arridy (kiri)


Joe Arridy lahir di Pueblo, Colorado tahun 1915 dari keluarga imigran Suriah yang sederhana. Sejak kecil ia menunjukkan tanda-tanda keterbelakangan mental.

marikitabaca - Di sekolah ia sering duduk menyendiri, tidak mampu membaca atau menulis, dan pada usia sepuluh tahun dikirim ke sekolah khusus anak dengan disabilitas intelektual.

Dokter menilai kecerdasannya hanya setara anak berusia enam tahun dengan IQ sekitar 46. Dunia bagi Joe adalah tempat sederhana, di mana mainan kecil dan tatapan ramah lebih berarti dari apa pun.

Musim panas tahun 1936 mengubah hidupnya selamanya. Seorang gadis muda bernama Dorothy Drain ditemukan terbunuh di rumahnya di Pueblo, sementara adiknya terluka parah namun selamat.

Polisi yang tertekan oleh tekanan publik segera mencari tersangka. Dalam waktu singkat mereka menahan Joe yang kebetulan terlihat di sekitar wilayah tersebut. Di ruang interogasi, pria lugu itu disuguhi pertanyaan berulang.

Ia mengangguk pada hampir semua hal. Tak lama, media menulis bahwa seorang “anak laki-laki bodoh mengaku membunuh gadis Pueblo.” Padahal tidak ada satu pun bukti fisik yang mengaitkannya dengan tempat kejadian perkara.

Proses interogasi terhadap Joe belakangan terbukti penuh tekanan dan manipulasi. Sheriff George Carroll menanyainya selama berjam-jam tanpa pendamping hukum atau ahli medis. 

Karena tidak memahami maksud pertanyaan, Joe hanya menjawab "ya" pada hampir setiap kalimat. Polisi juga memberi tahu detail kasus lebih dulu, seperti lokasi luka korban dan alat yang dipakai, lalu Joe mengulanginya seolah-olah ia mengetahuinya sendiri.

Ketika pengacaranya Gail Ireland meneliti transkrip, ditemukan banyak kejanggalan. Joe tidak tahu nama korban sebelum disebut polisi, ia salah menyebut kota tempat tinggalnya, dan keterangan waktunya bertabrakan dengan bukti bahwa ia sebenarnya berada di tempat lain. Semua itu menunjukkan bahwa pengakuannya adalah hasil sugesti, bukan kesadaran bersalah.

Beberapa hari setelah interogasi itu, polisi juga menangkap Frank Aguilar, mantan pekerja ayah korban. Di rumahnya ditemukan kapak dengan noda darah serta rambut yang cocok dengan korban.

Aguilar pun mengaku bersalah dan dihukum mati pada tahun 1937. Namun meski bukti mengarah jelas ke Aguilar, jaksa tetap menuntut Arridy. Dalam persidangan, psikiater menjelaskan bahwa Joe tidak memahami arti kata membunuh dan hanya meniru jawaban penyidik.

Pengacaranya memohon agar ia dikirim ke rumah sakit jiwa, bukan ke kursi gas. Hakim menolak dan putusan mati dijatuhkan pada akhir tahun 1937.

Tiga tahun Joe habiskan di penjara Colorado. Petugas mengatakan ia tidak pernah marah, tidak pernah menolak makan, dan lebih suka bermain dengan kereta mainan yang diberikan sipir.

Mainan itu menjadi satu-satunya hiburan yang bisa menenangkan pikirannya. Ketika hari eksekusi tiba, Joe bertanya apakah setelah “tidur panjang” itu ia bisa bermain lagi dengan kereta kecilnya. Pertanyaan polos itu menunjukkan bahwa ia tidak memahami arti kematian dan mengira eksekusi hanyalah tidur panjang setelah itu bisa bermain seperti biasa. 

Malam 6 Januari 1939, ia tersenyum dan mengucap terima kasih kepada sipir sebelum duduk di kursi gas. Beberapa menit kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia. Surat kabar menulis, “Orang paling bahagia di kamar gas.”

Tujuh dekade berlalu sebelum kebenaran akhirnya diakui. Tahun 2011, Gubernur Colorado Bill Ritter menandatangani pengampunan penuh bagi Joe Arridy.

Dalam pernyataannya tertulis bahwa bukti menunjukkan Arridy tidak bersalah dan menjadi korban sistem yang gagal melindungi orang dengan keterbatasan intelektual.

Kini makamnya di Rose Lawn Cemetery selalu dihiasi bunga dan mainan kecil, simbol pahit bahwa keadilan bisa datang terlambat bagi seorang pria yang terlalu polos untuk mengerti arti kejahatan yang dituduhkan kepadanya.

Editor: Dika 'Febe' | Sumber: Diolah


Pilihan Redaksi




Baca Juga

Mafia dan Pedofil di "Tanah Tuhan"
Senin, 22 Desember 2025 00:05 WIB
Pria Ini Sengaja Rampok Bank Demi Kabur dari Istri
Jum'at, 19 Desember 2025 07:19 WIB
Desahan Maut di Kamar Hotel Nomor 127
Jum'at, 05 Desember 2025 21:11 WIB