Promo

Pria Ini Sengaja Rampok Bank Demi Kabur dari Istri

Editor: Dika Febrian | Jum'at, 19 Desember 2025 07:19 WIB | 341 kali
Pria Ini Sengaja Rampok Bank Demi Kabur dari Istri

Lawrence John Ripple


Biasanya, penjahat melakukan perampokan bank karena ingin mencari uang dengan cara cepat. Namun, bagi seorang kakek bernama Lawrence John Ripple, merampok bank bisa jadi solusi menjauh dari istrinya sendiri.

marikitabaca - Beberapa tahun lalu, sebuah kejadian nyaris tak masuk akal terjadi di Kansas City, Kansas, yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi sekaligus tersenyum getir.

Seorang pria berusia 71 tahun bernama Lawrence John Ripple melakukan aksi nekat merampok bank, bukan karena kebutuhan ekonomi, dendam, atau keserakahan, melainkan karena satu alasan yang cukup mengejutkan: ia ingin masuk penjara agar bisa menjauh dari istrinya, setelah keduanya bertengkar di tanggal 2 September 2016.

Ya, Anda tidak salah baca. Ripple, yang kala itu sudah pensiun dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti kebanyakan kakek pada umumnya, secara sukarela masuk ke Bank of Labor, hanya satu blok dari kantor polisi, dan memberikan secarik kertas pada teller. Isi pesannya singkat namun mengintimidasi: “Saya membawa pistol, berikan saya uang.”

Teller yang kaget memberikan uang sejumlah $2.924 (setara Rp 39 juta) tanpa banyak tanya, mungkin berpikir nyawa lebih berharga daripada menanyakan mengapa seorang pria beruban tega melakukan kejahatan itu.

Tapi yang terjadi selanjutnya membuat semua orang bingung: alih-alih kabur seperti perampok pada umumnya, Ripple malah duduk santai di lobi bank, menunggu polisi datang. Ia bahkan tampak lega saat ditangkap.


Pilihan Redaksi


Ketika ditanya mengapa ia melakukan aksi tersebut, jawabannya membuat penyidik menganga: “Saya menulis surat ancaman itu di depan istri saya. Saya bilang, saya lebih baik di penjara daripada di rumah.”

Seiring berjalannya proses hukum, terungkap bahwa Ripple bukanlah kriminal kelas kakap. Ia tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya, dikenal sebagai ayah tiri yang baik untuk empat anak, dan telah menjalani kehidupan yang relatif stabil dengan sang istri.

Namun, sebuah titik balik terjadi saat ia menjalani operasi bypass jantung empat pembuluh pada tahun 2015. Sejak saat itu, Ripple menderita depresi yang tidak terdiagnosis, yang muncul dalam bentuk mudah marah dan perasaan jenuh berlebihan.

Pengacaranya, Chekasha Ramsey, menggambarkan tindakan Ripple sebagai “teriakan minta tolong.” Ia menjelaskan bahwa kliennya tak sedang mencoba merugikan siapa pun, melainkan sedang berada dalam kondisi mental yang terpuruk.

Untungnya, setelah kejadian tersebut, Ripple mendapat diagnosis yang tepat dan menjalani pengobatan serta konseling, termasuk bersama sang istri, yang, ironisnya, justru mendampinginya saat persidangan.

Dalam persidangan, Ripple menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada teller bank dan pihak Bank of Labor. “Saya tidak berniat membuat teller takut seperti itu,” ucapnya sambil menunduk.

Ia juga mengakui bahwa setelah mengonsumsi obat yang tepat, ia merasa seperti dirinya yang dulu lagi. Bahkan sempat bergurau, “Masuk penjara mungkin akan lebih menjadi hukuman bagi istri saya daripada saya.”

Hakim federal Carlos Murguia pada akhirnya memutuskan bahwa Ripple tak perlu menjalani hukuman penjara. Dengan mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, penyesalan mendalam, dan minimnya risiko untuk mengulangi kejahatan, Ripple dijatuhi hukuman enam bulan tahanan rumah.

Ia juga dikenai masa percobaan selama tiga tahun dengan pengawasan, 50 jam kerja sosial, serta diminta membayar $227,27 kepada bank untuk mengganti biaya waktu kerja pegawai yang dipulangkan akibat perampokan, serta $100 ke dana korban kejahatan.

Asisten Jaksa AS, Sheri Catania, mengakui bahwa ini adalah kasus yang sangat langka. 

“Dalam karier saya, baru dua kali saya meminta hakim mempertimbangkan hukuman alternatif selain penjara untuk perampokan bank,” ujarnya.

Lucunya, saat Ripple ditangkap, tidak ditemukan senjata di tubuhnya. Yang ada hanyalah gunting kuku dan sisir rambut. 

Jelas sekali, Ripple bukanlah perampok bersenjata yang berbahaya, melainkan pria tua yang kehabisan cara untuk mencari ruang bernapas dari kehidupan rumah tangga yang mungkin terlalu sunyi atau terlalu ribut.

Kisah Ripple menjadi pelajaran sekaligus pengingat bahwa masalah kesehatan mental tak mengenal usia. Kadang, bahkan seorang kakek yang tampak tenang bisa menyimpan kegundahan yang tak terlihat. Dan bagi Ripple, perampokan itu bukan soal uang, melainkan soal mencari jeda.

Meski caranya sangat salah, setidaknya sekarang ia mendapat bantuan yang dibutuhkannya. Dan siapa tahu, mungkin rumah terasa lebih nyaman setelah sesi konseling bersama istri tercinta.

Editor: Dika Febrian
Sumber: Mashable.com





Baca Juga