Promo

Hukuman Sadis di Lubang Anus

Editor: Dika Febrian | Rabu, 17 Desember 2025 14:15 WIB | 245 kali
Hukuman Sadis di Lubang Anus

"Impalement" dianggap sebagai hukuman sadis zaman dahulu


Awal dari hukuman penyiksaan seperti ini mulai dikenal pada zaman Kerajaan Assyrian. Penyiksaan ini adalah dengan menusuk korban dari bawah ke atas (Kaki ke kepala).

marikitabaca - Instrumen yang digunakan berupa tombak kayu atau besi yang ujungnya tumpul. Metode ini menyebabkan kematian yang menyakitkan, kadang-kadang dapat lebih dari satu hari, jika organ utama tidak terkena tusukan. 

Cara penyiksaan ini dimulai dengan korban ditelanjangi dalam posisi rebah, dan kemudian akan ditusuk tombak.

Eksekutor akan menusuk korban di pertengahan antara anus dan kemaluan, yang terlebih dahulu telah dilukai agar bisa memasukan tombak yang tumpul tersebut. 

Korban akan ditahan oleh beberapa eksekutor agar tidak bergerak, sementara eksekutor yang lain menusukkan instrumen tersebut, dengan cepat agar tidak bayak mengeluarkan darah. 

Instrumen tersebut akan dipalu agar dapat melesak masuk menembus tubuh korbannya. Ujung tombak sering keluar dari tubuh pada bagian atas tulang dada dan diarahkan di rahang bawah agar menahan korban tidak akan meluncur turun ke bawah.

Kemudian, korban akan dipajang di lapangan secara vertikal dengan menancapkan instrumennya ke tanah. Penyiksaan ini biasanya dilakukan di tempat umum agar dapat ditonton oleh orang lain, dan dijadikan sebagai peringatan untuk yang lain.

Penyiksaan ini akan memberikan rasa takut pada orang-orang yang melihat agar tidak melakukan hal yang sama seperti korban. 


Pilihan Redaksi


Biasanya korban-korban tersebut adalah orang yang melawan kerajaan. Di belahan dunia lain, yang menggunakan hukuman ini, ada juga karena perbuatan yang berhubungan dengan zina.

Di Zulu, Afrika Selatan menggunakan hukuman ini sebagai bentuk hukuman bagi para prajurit yang gagal dalam pelaksanaan tugas mereka, bisa juga untuk orang yang dituduh santet, atau bagi orang yang telah menunjukkan sikap pengecut.

Deskripsi Forensik

Trauma tulang akibat tusukan sangat jarang dijelaskan dalam literatur medis. 

Kasus pertama diagnosis semacam itu yang dilakukan pada kerangka, pasiennya adalah Soleyman el-Halaby, yang dieksekusi pada bulan Juni 1800, pembunuh jenderal Napoleon Kléber yang berusia 24 tahun. Kerangka tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Sejarah Alam (Paris).

Laporan ini menjelaskan lesi traumatis yang didiagnosis setelah pemeriksaan antropologis forensik yang cermat. Kasus semacam ini penting dari sudut pandang medis, terlepas dari apakah asal tusukan panggul atau perut tersebut merupakan kecelakaan atau kriminal.

Pemeriksaan forensik terhadap kerangka yang dilestarikan dalam koleksi antropologis dapat membantu merekonstruksi modalitas kematian, dan memberikan data untuk proses repatriasi.

Pada tanggal 14 Juni 1800, Soleyman el-Halaby, seorang mahasiswa teologi berusia 24 tahun dari Suriah, menikam jenderal Prancis Jean-Baptiste Kléber di taman istana Alfi bik, Kairo (Mesir).

Sang pembunuh memegang tangan korban, lalu menikamnya empat kali di jantung, perut, lengan kiri, dan pipi kanan. El-Halaby melarikan diri untuk bersembunyi, tetapi segera tertangkap karena memiliki belati yang digunakannya untuk membunuh Kléber (sekarang disimpan di sebuah museum di Carcassonne, Prancis).

Setelah penyiksaan dan pengadilan singkat, pembunuh itu dijatuhi hukuman mati di sebuah alun-alun umum di Kairo, menurut uraian berikut:

"Orang ini dihukum, oleh pengadilan militer Prancis, untuk dibakar dan kemudian ditusuk hidup-hidup. Algojo Barthelemy membaringkan Soleyman tengkurap, mengambil pisau dari sakunya, memberinya sayatan besar pada anusnya, mendekati ujung pasak – panjangnya tidak diketahui –, dan menancapkannya dengan palu. Kemudian dia mengikat tangan dan kaki pasien, mengangkatnya ke udara dan memasang tiang di lubang yang telah disiapkan".

Soleyman masih bertahan selama empat jam lagi, dan dia diprediksi kan hidup lebih lama jika, selama Barthelemy pergi, seorang prajurit tidak memberinya sesuatu untuk diminum: dia meninggal seketika.

Baron Larrey (ahli bedah pribadi Napoléon) melaporkan bahwa tangan kanan el-Halaby terbakar sampai ke tulang. Seluruh kerangka dikirim ke Prancis oleh Larrey, dan diberikan kepada naturalis Prancis Cuvier pada tahun 1806 untuk tujuan antropologi.

Editor: Dika Febrian
Sumber: Diolah





Baca Juga