MariKitaBaca.Id - Informasi Bangka Belitung

Melati: Bullying Bisa Hilang, jika...

pada Selasa, 22 April 2025 22:35 WIB
data-auto-format="rspv" data-full-width="">

Anggota DPR RI Komisi XIII, Melati SH menekankan kepada generasi muda arti penting pilar-pilar demokrasi bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Melati, di depan ratusan siswa SMAN 3 Pangkalpinang menekankan jika anak-anak muda memahami empat pilar, maka insya Allah tidak terjadi permasalahan serius di sekolah. Salah satunya adalah bullying.

 - Melati SH datang ke SMAN 3 Pangkalpinang untuk sosialisasi empat pilar demokrasi. Itu adalah salah satu tugas yang diberikan negara kepada anggota DPR/MPR RI.

"Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, hari ini kita masih diberikan nikmat umur, nikmat kesehatan, dan nikmat kesempatan untuk bisa silaturahmi di aula SMA 3," ujar Melati, Senin (22/4/2025).

Melati menjelaskan, kenapa ia memilih sekolah untuk sosialisasi karena memang tujuannya untuk memberikan pemahaman yang lebih tepat dibanding kalangan selain anak muda.

"Sosialisasi ini audiensnya bebas. Bisa ibu-ibu, mak-mak, siapapun bebas. Cuma saya berpikir, kalau kita bicara tentang sosialisasi seperti pilar, kayaknya gak nyambung kalau ketemu ibu-ibu. Jangan-jangan ibu ngomong ngaco di depan banyak-banyak. Ibu nih, ngomong apa? Makanya saya memilih medianya, audiensnya adalah anak-anak sekolah," terang Melati.

Karena kata dia, saat ini sangat tepat dan sangat relate di mana permasalahan banyak menerpa anak-anak sekolah. Nah, jika kita memahami empat pilar ini, mudah-mudahan kata Melati, tidak lagi terjadi itu permasalahan yang ada di sekolah. Terutama salah satunya adalah bullying.

"Itu tidak akan terjadi. Tidak akan terjadi kalau kita memahami," katanya.


Klik juga artikel  di bawah ini:


Pemahaman Empat Pilar


Nah, kata Melati, dalam empat pilar, yang sejak dulu selalu masuk dalam pelajaran sekolah, sebut saja, PMP, PPKN, Pendidikan Pancasila, sejatinya empat pilar itu selalu dikaitkan.

Empat Pilar kebangsaan juga biasa disebut sebagai soko guru, yang artinya adalah tiang penyangga yang bersifat kokoh. Hal ini dimaksudkan agar seluruh rakyat Indonesia dapat merasa aman, nyaman, tentram, sejahtera, dan juga terhindar dari segala macam gangguan atau bencana yang dapat menimpa.

Keempat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Nah, kenapa empat pilar harus masuk dalam materi setiap mata pelajaran setiap sekolah, baik yang masih dasar maupun tingkat tertinggi. Karena dengan memahami ini, maka nasionalisme dan semangat kebangsaan bisa tetap tumbuh subur di jiwa anak-anak Indonesia.

"Pernah gak ngebayangin bagaimana founding father kita? Pahlawan kita dengan berdarah-darah untuk memperjuangkan warna merah putih? Kalau kita udah masuk ke situ, kalian semua, kalian akan serius belajar. Kalian akan serius untuk membangun negara, kalian akan serius untuk membangun daerah, kalian gak akan melakukan hal-hal yang negatif kepada teman, lingkungan, diri sendiri. Karena malu," sebut Melati.

Makanya, sambung Melati, empat pilar bukan hanya materi yang didengar saja, tapi benar-benar harus dipahami. Harus menjadi tameng dalam mencegah perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

"Empat pilar itu ibarat rumah. Ada fondasi, ada tiang, ada atap, ada bangunan. Jadilah itu, biar negara kita kuat, sesuai juga dengan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hari ini, saya sangat concern dengan kejadian-kejadian bullying terutama di sekolah. Dan sosialisasi ini adalah langkah konkrit kita memerangi bullying," tandas Melati.

Mencegah Bullying

Mencegah bullying di sekolah memerlukan upaya bersama dari semua pihak, termasuk siswa, guru, orang tua, dan administrator sekolah. Berikut beberapa cara untuk mencegah bullying di sekolah:

Membangun Budaya Sekolah yang Positif
1. Mengembangkan kebijakan anti-bullying: Sekolah harus memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan efektif.
2. Meningkatkan kesadaran: Meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan staf tentang bahaya bullying dan pentingnya menghormati perbedaan.
3. Membangun komunitas sekolah yang inklusif: Membangun komunitas sekolah yang inklusif dan mendukung, di mana setiap siswa merasa aman dan dihargai.

Mengajarkan Keterampilan Sosial dan Emosional
1. Mengajarkan empati: Mengajarkan siswa untuk memahami dan menghargai perasaan orang lain.
2. Mengajarkan keterampilan komunikasi: Mengajarkan siswa untuk berkomunikasi dengan efektif dan menghormati orang lain.
3. Mengajarkan keterampilan mengelola emosi: Mengajarkan siswa untuk mengelola emosi mereka dengan sehat dan efektif.

Meningkatkan Pengawasan dan Intervensi
1. Meningkatkan pengawasan: Meningkatkan pengawasan di sekolah, terutama di area yang rentan terhadap bullying.
2. Mengintervensi bullying: Mengintervensi bullying dengan cepat dan efektif, serta memberikan konsekuensi yang sesuai bagi pelaku bullying.
3. Mendukung korban bullying: Mendukung korban bullying dan membantu mereka untuk memulihkan diri dari trauma.

Melibatkan Orang Tua dan Masyarakat
1. Menginformasikan orang tua: Menginformasikan orang tua tentang kebijakan anti-bullying sekolah dan meminta mereka untuk mendukung upaya pencegahan bullying.
2. Melibatkan masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan bullying, seperti dengan mengadakan kampanye anti-bullying.

Dengan upaya bersama dan komprehensif, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi semua siswa, serta mencegah bullying.

Penulis: Putra Mahendra

data-auto-format="rspv" data-full-width="">
#Lokal #Nasional #DPR RI #Komisi XIII #Melati #Gerindra #Babel #Bangka Belitung