Melati Ingatkan Bahwa Ada yang tak Boleh Dilupakan
Melati, SH, anggota Komisi XIII DPR RI fraksi Gerindra dapil Bangka Belitung (Babel) saat memberikan sosialisasi Empat Pilar kepada masyarakat di Kota Pangkalpinang dan sekitarnya, Kamis (11/6/2025) di Rosman Djohan Institute, Pangkalanbaru, Bangka Tengah (Bateng) Provinsi Babel.
Melati, SH anggota Komisi XIII DPR RI fraksi Gerindra dapil Bangka Belitung (Babel) mengatakan, jika semua elemen di Negara Republik Indonesia memahami benar-benar Pancasila maka seharusnya tidak ada lagi persoalan moral yang menyasar kepada persatuan dan kesatuan.
"Kalau kita masing-masing paham tentang Pancasila, gak ada itu yang namanya pencurian, gak ada. Gak ada itu yang namanya kekerasan seksual, gak ada. Gak ada itu yang namanya bullying, gak ada. Gak ada. Kalau kita paham tentang Pancasila," kata Melati membuka diskusi.
Tapi menurut Melati, sampai di hari ini masih saja ada pihak-pihak yang berkelakuan non-pancasilais, serta berusaha mengaburkan dengan hal-hal yang mengganggu ketentraman.
Dia menekankan, pemahaman Pancasila haruslah kokoh dan tidak timpang-timpang.
Analogi Melati, jika ada empat pilar, dan salah satunya patah, maka dipastikan tidak akan ada keseimbangan. Jatuh. Dan berantakan.
"Kalau Empat Pilar ini, kalau yang namanya pilar itukan ada 4. Kakinya ada 4. Kalau 1 terganggu, kira-kira timpang gak? Timpang," katanya.
Dijabarkan Melati, Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah mengalami perubahan sebanyak dua kali. Nah, salahduanya adalah Pancasila yang menjadi ideologi.
Dia mengatakan, coba bayangkan saja kalau rakyat Indonesia tidak direkatkan dengan Pancasila, maka mungkin saja perpecahan akan terjadi.
"Kebayangkan, saya, kita semua, orang Bangka Belitung terus ketemu suku yang punya karakter lembut, misalnya, yang beda karakter dan gaya bicaranya berbeda. Menurut merek ngomong kita ngegas. Kita itu ngomongnya terlalu keras. Dia pikir kita marah. Kalau. Mereka tidak paham tentang kebudayaan. Mereka akan berpikir bahwa kita nyari ribut. Benar gak? Indonesia yang begitu luas ini perlu direkatkan. Bahwa negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memang butuh Pancasila," terangnya panjang lebar.
Maka, kata Melati, jika Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, kalau kita pegang maka tidak akan ada yang namanya tawuran, berantem antar-suku.
"Ini kita pegang dan harapannya ini dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan tugas kami adalah ikut bersosialisasikan ini. Ini adalah empat pilar," katanya.
Namun Melati tidak menampik jika ada yang beranggapan bahwa acap kali kita ketemu dengan pemimpin-pemimpin atau tokoh bangsa yang memberikan contoh yang tidak benar.
Misalnya, saling jatuhkan. Misalnya, mungkin dicontohkan, banting meja karena dia merasa pendapatnya tidak diterima.
"Nah hal-hal seperti inilah yang membuat contoh atau bisa adanya pertikaian di Negara Indonesia," katanya.
Di atas segalanya kata Melati, kita punya agama yang menjadi filter tertinggi bagi sebuah nurani. Artinya, di Pancasila menempatkan Ketuhanan yang Maha Esa di posisi pertama sebagai landasan, bukan tanpa alasan.
"Sila Ketuhanan yang Maha Esa artinya apapun yang kita lakukan, kita punya agama. Jangan melakukan hal yang semena-mena. Karena tidak ada satu pun agama yang mengajar kita untuk berbuat jahat. Kalau kita paham dengan Pancasila, kita pasti menjadi orang Indonesia yang baik-baik saja. Inti dari sosialisasi itu adalah ingin menekankan kepada kita semua, jangan lupa bahwa kita punya bijakan, kita punya ideologi, ideologi negara, yaitu Pancasila," tandas Melati, SH, istri mantan Gubernur Erzaldi Rosman.
Penulis: Putra Mahendra
Klik juga artikel
- Melati dan Kepedulian kepada Warga Lapas Perempuan
- Melati Kutuk Kekerasan Seksual
- GEKRAFS Beri Kemajuan, Melati Ungkap Tokohnya