Promo

Kama Sutra: Seni Rayuan dan Pengejar Kenikmatan

Kamis, 10 April 2025 04:18 WIB | 522 kali
Kama Sutra: Seni Rayuan dan Pengejar Kenikmatan

Kama Sutra merupakan sebuah legenda yang ditasbihkan menjadi alat maupun tujuan dalam romantisme pasangan menikmati hubungan yang intens.


Kama Sutra dikenal oleh masyarakat luas sebagai pedoman seks bagi orang-orang India kuno. Pengucapan Kama Sutra membawa kita pada gambaran lukisan dinding erotis.

 - Dalam relief-relief itu, digambarkan orang-orang cantik dalam kondisi telanjang yang berpelukan dalam posisi yang cukup eksotis. Wanita-wanita itu memiliki bentuk tubuh yang eksotis dan ideal, membuat setiap instruktur yoga menjadi insecure dibuatnya. 

Seorang tokoh bernama Vatsyayana, dikenal secara luas sebagai penulis dari kitab Kama Sutra, meski masih sangat sedikit yang diketahui tentangnya. Dikatakan bahwa dia menulis naskah itu melalui ilham ilahi setelah banyak melakukan meditasi.

"Kama Sutra berarti risalah tentang kenikmatan seksual," tulis Joanne Reed kepada History of Yesterday dalam artikel berjudul The Religious Insights of the Kama Sutra yang diterbitkan pada 11 November 2022.

Berbeda dengan pandangan Kristen yang memandang tujuan seksual sebagai prokreasi, di dunia Hindu sejak abad ke-4, Kama Sutra merupakan pengembangan kenikmatan seksual yang terlepas dari prokreasi, semacam pencarian religiusitas seseorang.

Seni rayuan dan pengejaran kenikmatan seksual.

Seperti yang diungkapkan dalam Kama Sutra, merupakan bagian integral dari sastra Sanskerta.

Orang bijak dan seniman Hindu menganggap subjek ini sangat menarik sehingga membuat mereka mengabadikan berbagai ajaran dan praktik Kama Sutra dalam bentuk tulisan dan juga pahatan batu di berbagai kuil di seluruh negeri.

Pada mulanya, sang pencipta dalam kepercayaan Hindu menciptakan pria dan wanita dan dalam bentuk perintah menetapkan aturan untuk mengatur keberadaan mereka sesuai dengan prinsip Dharma, Artha, dan Kama.

Dalam tradisi Hindu, selama hidupnya, manusia harus mengejar tiga tujuan utama yang diperlukan untuk kehidupan yang memuaskan dan bahagia (Dharma, Artha, dan Kama). 

Dharma adalah tugas individu yang dipenuhi dengan mematuhi adat atau hukum. Dharma mencakup kewajiban agama, hak moral, dan kewajiban, serta perilaku yang memungkinkan ketertiban sosial, perilaku yang baik, dan perilaku yang bajik. 

Prinsip ini mencakup apa yang harus diterima dan dihormati oleh semua makhluk yang ada untuk mempertahankan keharmonisan dan keteraturan di dunia.

Artha dalam bahasa Sansekerta berarti "kekayaan" atau "Kemakmuran". Artha menggabungkan kekayaan, karier, aktivitas untuk mencari nafkah, keamanan finansial, dan kemakmuran ekonomi.

Penting untuk dicatat bahwa pengejaran keuntungan materi harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Dharma karena jika berlebihan akan menyebabkan ekses yang tidak diinginkan dan merusak.

Kama dalam bahasa Sansekerta berarti "cinta", "keinginan", dan "kesenangan" dan kenikmatan estetika hidup dengan atau tanpa konotasi seksual. Pengejaran Kama sebagai “cinta” tidak boleh melanggar prinsip Dharma (tanggung jawab moral) dan Artha (kemakmuran material).

Dalam tradisi Hindu, manusia harus mempraktikkan Dharma, Artha, dan Kama pada waktu yang berbeda dalam hidup mereka dan sedemikian rupa sehingga mereka selaras dan tidak berbenturan sama sekali.

Seseorang harus memperoleh pembelajaran dan pendidikan tentang ketiga prinsip itu sejak usia dini—terutama Dharma. Di masa muda dan paruh baya, seseroang tadi mulai harus memperhatikan Artha, dan Kama.

Seseorang harus merindukan kesenangan duniawi selama masa muda dan paruh baya karena selama periode ini seseorang secara fisik dan mental cocok untuk menikmati keintiman dengan lawan jenis.

Sementara "di usia tuanya, seseorang harus mengabdikan dirinya untuk mengabdi pada agama dan berjuang untuk mencapai keselamatan," tutup Joanne Reed dalam tulisannya.


Baca juga artikel  di bawah ini:

► Tepat Hari Ini, 72 Tahun Silam, Tan Malaka Dieksekusi Mati Bangsa Sendiri

► Kisah Tali Pengikat Kaki Gajah

► Hilangnya Kota Maksiat Bergelimang Dosa


Ditulis sejak abad ke-3, Kama Sutra berhasil bertahan hingga kini karena kemasyhurannya. Kama Sutra adalah salah satu karya agung dan tertua yang selalu ditinggikan dalam kesastraan India. Kama Sutra memang tak pernah lepas dari daya tariknya sebagai sebuah seksologi.

Di dalamnya juga terungkap hal-hal yang lebih luas, seperti masalah perwatakan laki-laki dan perempuan, kiat keberhasilan seksual laki-laki menghadapi perempuan, serta teknik memantik dan mengobarkan hasrat.

Namun lebih dari sekadar itu, dalam Kama Sutra juga termuat budaya, psikologi, sosiologi, dan ajaran hidup religius. Kamasutra India ditujukan untuk keharmonisan dan keserasian pasangan dalam hubungan seks. Selain kamasutra India, di timur tengah juga terdapat naskah kuno teknik bercinta dari Arab yang dikenal dengan The Perfurmed Garden.

Kamasutra dari Arab ini, menggambarkan posisi senggama yang cocok untuk segala tipe fisik, tepat untuk situasi khusus dan sesuai dengan kebutuhan. Di negeri tirai bambu, pada masa kerajaan kuno terdapat sebuah kitab seni seks bernama Su Ni Jing yang membuat seni bercinta ala Cina Kuno.

Juga, kitab seksual Taoisme Cina yang juga dianggap sebagai seni bercinta ala India. Kitab-kitab tersebut, berisikan ratusan “jurus” bercinta dan variasi posisi “menyerang” serta “menerima” saat berhubungan intim dengan pasangan.

Kama Sutra adalah sebuah teks kuno India yang membahas tentang hubungan seksual dan cinta. Buku ini ditulis oleh Vatsyayana Mallanaga pada abad ke-2 atau ke-3 Masehi.

Isi Kama Sutra
Kama Sutra membahas tentang berbagai aspek hubungan seksual, termasuk:

1. Posisi seksual: Buku ini menjelaskan berbagai posisi seksual yang dapat dilakukan oleh pasangan.
2. Teknik seksual: Kama Sutra juga membahas tentang teknik-teknik seksual yang dapat digunakan untuk meningkatkan kenikmatan.
3. Hubungan cinta: Buku ini juga membahas tentang hubungan cinta dan bagaimana mempertahankan hubungan yang sehat.

Signifikansi Kama Sutra
Kama Sutra memiliki signifikansi yang besar dalam budaya India dan dunia Barat. Buku ini dianggap sebagai salah satu teks kuno yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

Kontroversi
Kama Sutra juga telah menimbulkan kontroversi karena isinya yang dianggap terlalu eksplisit dan sensual. Namun, buku ini juga dianggap sebagai sebuah karya seni yang indah dan memiliki nilai historis yang besar.

Penulis: Putra Mahendra/marikitabaca/Galih Pranata/Nationalgeographic




Baca Juga