Promo

Mengenang Tragedi Mudik 2016: Matinya 17 Nyawa

Editor: Dika Febrian | Rabu, 18 Maret 2026 08:34 WIB | 204 kali
Mengenang Tragedi Mudik 2016: Matinya 17 Nyawa

Para pemudik yang mengalami kesialan di tahun 2016, melewati "Brexit" 


Tragedi Brexit 2016 menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah mudik Lebaran Indonesia. Pada musim mudik tahun itu, pintu keluar Tol Brebes Timur, yang dikenal dengan sebutan "Brexit," berubah menjadi titik terparah kemacetan.

marikitabaca - Tragedi sepuluh tahun lalu itu, terjadi karena masyarakat Indonesia berbondong-bondong mudik Lebaran. Antuasiasme masyarakat untuk pulang ke kampung halaman saat itu tinggi sekali. 

Khususnya bagi mereka yang tinggal di Ibukota dan sekitarnya. Selain karena aktivitas mudik menjadi momentum yang ditunggu bagi para perantau. Akses jalan tol di Tanah Jawa yang telah dibuka lebar oleh pemerintah membuat masyarakat semakin bersemangat untuk mudik.

Tapi, ternyata, itu menyiksa ribuan pemudik yang berharap tiba di kampung halaman dengan selamat. Ruas tol ini baru saja diresmikan pada 1 Juli 2016 oleh Presiden Joko Widodo sebagai bagian dari proyek tol Trans-Jawa, dengan harapan memangkas waktu tempuh Jakarta–Brebes menjadi sekitar empat jam. 

Dua hari setelah peresmian, tepatnya 3 Juli, kemacetan luar biasa terjadi, menimbulkan penderitaan yang tidak pernah terbayangkan.

Kemudian tragedi itu terjadi. Penumpukan kendaraan berkilo-kilo meter terjadi di tol Palimanan-Kanci sumbernya adalah pintu tol Brebes Timur. Masyarakat umum menyebut kemacetan yang terjadi di kawasan Brebes sebagai ”Brexit”, akronim dari Brebes Exit

Istilah itu sudah digunakan terlebih dahulu untuk merujuk pada proses keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa atau Britain Exit. Jadi, di tingkat dunia, ada Brexit yang berarti Inggris tak lagi menjadi anggota Uni Eropa, sedangkan di tingkat nasional, ada Brexit yang mengacu pada peristiwa kemacetan parah di Brebes-Tegal, delapan tahun silam. 

Selama berjam-jam kendaraan tidak bergerak sama sekali, bahu jalan dipenuhi pemudik yang beristirahat dari kebuntuan. Situasi ini seperti neraka bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. 

Tragis, 17 orang pemudik dilaporkan meninggal dunia, kebanyakan mengalami sakit dan kelelahan selama arus mudik Lebaran sejak 29 Juni hingga 5 Juli 2016 di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Kepadatan yang mematikan ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Hanya ada tiga gerbang tol di Brebes Timur, jumlah yang sangat tidak memadai untuk menampung ribuan kendaraan yang datang secara bersamaan. 

Penuh petaka, ungkapan yang bisa digambarkan dalam tragedi Brexit tahun 2016. Peristiwa bermula terjadi kemacetan di pintu keluar tol itu dan mengakibatkan antrian mencapai 16 kilometer. 

Antrean ini disebabkan lambatnya pembayaran tol di gerbang Brexit yang saat itu jumlah tarifnya yakni Rp146.500.

Sistem pembayaran tol yang masih manual membuat setiap transaksi memakan waktu lama, sementara SPBU dan fasilitas pendukung seperti toilet sangat terbatas. 

Adanya pasar tumpah ataupun deretan penjual yang menawarkan dagangan di pinggir jalur arteri pantura, terutama di kawasan Indramayu dan Subang, Jawa Barat dan lampu lalu lintas yang berdekatan dengan pintu keluar tol menambah parah kemacetan di Brexit. 

Pengendara yang mengantre dan menyerobot di SPBU juga kian memperparah kemacetan. Warga sekitar juga turut membuat toilet dadakan untuk para pengendara. 

Kemacetan panjang juga membuat banyak pemudik memilih untuk shalat di bahu jalan. Namun, saat ini infrastruktur dari jalan tol di Indonesia kian mengalami pertumbuhan untuk lebih maju.

Pemudik yang kelelahan, haus, dan lapar terpaksa menghadapi panas terik dan antrian yang tidak bergerak selama berjam-jam. Banyak kendaraan kehabisan bahan bakar, dan pedagang dadakan menaikkan harga BBM hingga Rp50.000 per liter, membuat keadaan semakin mencekam.

Tidak hanya bahan bakar, kebutuhan dasar seperti air minum dan makanan juga melonjak harganya. Pemudik harus membeli air mineral dengan harga berkali-kali lipat dari normal karena pasokan resmi tidak mencukupi. 

Makanan ringan dan camilan pun menjadi langka dan mahal, menambah penderitaan mereka yang terjebak di tengah kemacetan panjang. Kondisi ini memperparah kelelahan, dehidrasi, dan stres, yang akhirnya berkontribusi pada meningkatnya risiko kesehatan bagi pemudik.

Selama kemacetan ini, 17 orang meninggal dunia akibat serangan jantung, kelelahan ekstrem, dan kondisi medis yang memburuk. 

Beberapa korban bahkan ditemukan di dalam kendaraan mereka, terjebak tanpa bisa bergerak, sementara keluarganya hanya bisa menunggu dengan cemas di luar. 

Suasana begitu dramatis, diwarnai tangisan, teriakan, dan ketidakpastian yang membekas di ingatan semua yang berada di lokasi. Tragedi ini menegaskan bahwa kelalaian dalam persiapan dan koordinasi bisa berakibat fatal.

Pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah perbaikan. Sistem pembayaran tol elektronik diperkenalkan untuk mempercepat transaksi, jumlah gerbang tol ditambah, dan SPBU keliling disediakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pemudik. Koordinasi antar instansi diperkuat agar arus lalu lintas bisa dikelola lebih efektif di musim mudik berikutnya.

Kepala Staf Kepresidenan kala itu, Moeldoko berharap, tragedi kemacetan parah di pintu keluar Tol Brebes Timur atau Brebes Exit (Brexit) pada 2016 tidak boleh terjadi lagi. 


Pilihan Redaksi


Dengan 17 korban dilaporkan meninggal dunia akibat terjebak kemacetan selama puluhan jam di tol pertama Trans Jawa itu, kata dia, Brexit menjadi momen terburuk dalam sejarah tradisi mudik di Indonesia. 

"Pengalaman Brexit 2016 itu tidak boleh lagi terjadi. Semua kementerian dan lembaga sudah siap (mengantisipasi), tetapi masyarakat juga harus siap menghadapi situasi,” kata Moeldoko dalam konferensi pers Kesiapan Pemerintah Menghadapi Risiko Bencana Hidrometeorologi.

Pemerintah telah menyiapkan pelayanan terbaik bagi masyarakat menjelang arus mudik dan balik Lebaran, termasuk untuk menghadapi risiko bencana hidrometeorologi.

Moeldoko menggarisbawahi pentingnya upaya membangun kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan selama perjalanan. 

"Sangat penting untuk sedia payung sebelum hujan. (Masyarakat) perlu menyiapkan makanan, minuman, mobilnya disiapkan, BBM juga harus penuh. Jangan sampai ada kemacetan nanti tidak siap,” kata Moeldoko.

Namun, tetap saja, tragedi Brexit 2016 menjadi pengingat pahit bahwa perencanaan matang, kesiapan infrastruktur, dan koordinasi yang baik adalah kunci keselamatan. 

Setiap pemudik dan pihak terkait harus belajar dari kejadian ini agar penderitaan serupa tidak terulang di masa depan, dan pintu tol yang seharusnya mempermudah perjalanan justru tidak berubah menjadi "neraka" bagi mereka yang berharap pulang dengan selamat.

7 Peristiwa Horor Mudik Bak "Neraka" di RI, Brexit Tewaskan 17 Orang

Mudik merupakan fenomena yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Istilah mudik diartikan sebagai bepergian jarak jauh bagi orang perantauan yang ingin kembali ke kampung halaman.

Mudik pun seakan menjadi tradisi wajib setiap setahun sekali, meski istilah mudik sekarang tak hanya sebatas pada menjelang Idul Fitri, tetapi juga bisa terjadi di libur-libur besar lainnya seperti Natal dan Tahun Baru.

Namun, mudik sudah melekat cukup kental di masyarakat sebagai tradisi yang wajib dilakukan menjelang Hari Raya, sehingga momentum mudik selain waktu tersebut tidak terlalu besar.

Meski begitu, setiap tahunnya, banyak cerita yang cukup memilukan saat mudik berlangsung, mulai dari kemacetan yang luar biasa, angka kecelakaan yang cukup tinggi, dan cerita memilukan lainnya.

Terlepas dari momok macet parah yang pasti terjadi di mudik tiap tahunnya, sebenarnya ada kejadian memilukan yang pernah terjadi dan hingga kini masih menjadi tragedi mudik paling parah.

Adapun tragedi tersebut yakni tragedi Brexit. Namun ada beberapa tragedi mudik lainnya selain Brexit. Ini daftarnya:

1. Kemacetan parah akibat Amblesnya Jembatan Comal dan Jembatan Cihaurbeuti (Juli 2014).

Arus mudik Lebaran 2014 juga bisa dikatakan sebagai ujian bagi para pemudik di Pulau Jawa, terutama yang melewati jalur Pantai Utara (Pantura) dan Pantai Selatan (Pansela).

Pada arus mudik 2014, Jembatan Comal yang berada di Kabupaten Pemalang ambruk karena tergerus akibat banjir yang melanda Sungai Comal pada Februari 2014.

Banjir tersebut menyebabkan pancang jembatan sisi barat alami kemiringan. Selain itu, ambruknya juga diakibatkan oleh beban tonase perlintasan yang meningkat tajam.

Akibat ambruknya Jembatan Comal, pihak Polres Pemalang melakukan pengalihan ke jalur alternatif saat itu. Bahkan para pemudik dari barat ke timur yang ingin melewati Pantura saat itu diupayakan melalui jalur selatan atau jalur tengah.

Meski begitu, nyatanya ambruknya Jembatan Comal membuat kemacetan tak terhindarkan. Terpantau pada 20 Juli 2014, kemacetan total terjadi di ruas jalur utama Pantai Utara Jawa pasca amblas dan ditutupnya Jembatan Comal.

Ratusan kendaraan pun terjebak kemacetan parah. Bahkan, ambruknya Jembatan Comal saat itu berdampak kepada tingkat kemacetan mudik di jalur Pansela, karena banyak orang yang menghindari jalur Pantura saat itu.

Belum selesainya jembatan Comal yang ambruk, di lintas Pansela, yakni di Kabupaten Ciamis, sebuah jembatan juga ambles karena tergerus aliran sungai. Jembatan tersebut berada di Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis atau lintas selatan Kabupaten Tasikmalaya atau sebelum memasuki kota Ciamis.

Amblesnya jembatan di Kecamatan Cihaurbeuti itu membuat lintas selatan yang sebelumnya macet akibat banyak orang yang menghindari jalur Pantura akibat ambruknya Jembatan Comal pun semakin parah.

Bahkan, banyak kendaraan yang dialihkan melewati jalur alternatif dengan jalan desa yang tergolong sempit.

Kepolisian Daerah Jabar membuka dua jalur alternatif Pamoyanan dan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya untuk menghindari jembatan di jalan nasional kawasan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jabar, yang ambruk

Pengalihan itu dilakukan untuk menghindari penumpukan kendaraan pemudik di jalur selatan Jawa Barat tepatnya kawasan Kabupaten Tasikmalaya. Akibat peralihan ini, kondisi lalu lintas di kota Tasikmalaya pun sangat padat.

2. Kemacetan Parah di Simpang Jomin, Cikampek

Jauh sebelum ada Tol Cipali, orang-orang yang ingin melakukan mudik melewati Pantura bagi kendaraan roda empat atau lebih pasti akan melewati Simpang Jomin.

Simpang Jomin merupakan simpul di ujung Jalan Tol Cikampek dan merupakan simpul satu-satunya bagi kendaraan roda empat atau lebih yang ingin melewati jalur Pantura dari tol Cikampek. Sehingga mau tidak mau kendaraan dari Tol Cikampek harus melewati simpang ini.

Namun, karena banyaknya persimpangan dan bertemu arus dari arteri Karawang Timur, maka seringkali kemacetan parah terjadi disini. Bahkan, kemacetan yang terjadi di Simpang Jomin terkadang mengular ke Tol Cikampek sejak simpang susun Cipularang atau Dawuan Karawang.

Banyak pemudik yang terjebak di Simpang Jomin hingga seharian karena saat itu tidak ada jalur lain selain melewati alternatif.

Bahkan, dalam sebuah mudik, lalu lintas Karawang Timur hingga Simpang Jomin yang jaraknya hanya 27 km ditempuh dalam 9 jam. Padahal, pada hari-hari biasa, Karawang Timur-Simpang Jomin dapat ditempuh dalam 30 menit saja.

Akibatnya, pemudik banyak yang menghindari keluar gerbang Tol Cikampek, mereka memilih keluar gerbang Tol Dawuan dan gerbang Tol Karawang Timur. Ada pula pemudik yang menggunakan pribadi dan bus keluar dari gerbang Tol Karawang Barat.

Pemudik yang keluar gerbang Tol Dawuan tidak bisa langsung masuk ke jalur menuju simpang Jomin. Tetapi terlebih dahulu harus melintasi jalan arteri Karawang dan memutar arah di Bundaran Pertamina Dawuan.

Di titik putaran arah itu, terjadi pertemuan arus antara kendaraan yang memutar arah dengan kendaraan pemudik yang melintasi jalan arteri Karawang menuju jalur Pantura keluar gerbang Tol Karawang Timur.

Atas kondisi itu, terjadi kemacetan panjang menuju jalur Pantura melintasi simpang Jomin. Akibat kemacetan parah tersebut, banyak pemudik yang sampai mematikan mesin mobilnya saat itu. Bahkan, banyak pula pemudik yang sampai keluar mobil, sambil menunggu normalnya arus lalu lintas.

3. Kemacetan Parah di Cagak Nagreg

Masyarakat Jawa Barat pasti sudah tidak asing lagi dengan kawasan Jalur Nagreg di Kabupaten Bandung. Jalan lintas yang berbatasan dengan wilayah Garut itu selalu dipastikan ramai setiap momen mudik Lebaran.

Sebelum adanya Lingkar Nagreg, kemacetan parah juga kerap terjadi di kawasan Nagreg. Bahkan, kemacetan panjang juga mengular hingga Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Hal ini karena sebelum adanya Lingkar Nagreg, arus lalu lintas tergabung menjadi satu dan secara bersamaan melewati tanjakan atau turunan Cagak Nagreg. Belum lagi, kendaraan juga pasti melewati perlintasan sebidang Nagreg.

Kendaraan dari arah timur menuju barat harus melewati tanjakan yang cukup terjal dan seringkali kendaraan mengalami mogok. Sebaliknya, kendaraan dari barat menuju timur harus melewati turunan yang tajam ketika melewati Cagak Nagreg.

Alhasil, kemacetan pun tak terhindarkan karena pertemuan arus. Ditambah, adanya perlintasan kereta api juga turut memperparah kemacetan Nagreg saat itu.

Namun, setelah adanya Lingkar Nagreg, pemisahaan arus lalu lintas pun terjadi, di mana kendaraan dari barat ke timur akan tetap melewati Cagak Nagreg, sedangkan kendaraan sebaliknya diarahkan ke Lingkar Nagreg.

Meski sudah terpisah, tetapi nyatanya tak jarang kemacetan Nagreg masih terjadi. Hal ini karena kendaraan dari barat masih akan melintasi perlintasan Nagreg, sehingga simpul kemacetan masih akan ada selama perlintasan sebidang tersebut masih ada.

Tetapi untuk kendaraan dari timur, kini tak lagi mengalami kemacetan karena tidak bertemu lagi dengan arus kendaraan dari barat.

4. Kemacetan Parah Tol Cipularang (2022)

Tahun 2022 merupakan tahun pertama diperbolehkannya kembali mudik setelah dilarang karena adanya Pandemi Covid-19. Sehingga kala itu, menjadi Lebaran yang berbeda.

Jadi, tidak heran bila kemudian jalanan dipadati dengan kendaraan para perantau yang hendak kembali ke kampung halaman masing-masing.

Karena itu, jumlah pemudik bertambah signifikan. Hal ini wajar karena masyarakat sebelumnya dilarang untuk mudik, sehingga ketika pemerintah mengizinkan kembali, maka masyarakat dapat melepas rindu kepada sanak saudara setelah selama dua tahun harus bertahan di daerah perantauan.

Alhasil akibat kenaikan pemudik yang sangat pesat tersebut, arus lalu lintas di kawasan tol Cikampek, Cipularang, hingga Cipali pun sangat padat.

Bahkan, volume kendaraan pada puncak mudik tahun lalu disebut mencatatkan rekor terbaru di Indonesia. Oleh karenanya, tidak heran juga jika kemacetan panjang ditemui di banyak titik.

Untuk mengurai kemacetan parah di Tol Cikampek, polisi lalu lintas setempat memberlakukan kebijakan one way dari KM 47 tol Cikampek hingga Gerbang Tol Kalikangkung di Semarang.

Namun, kebijakan one way ini berdampak kepada pemudik dari Bandung ke Jabodetabek melewati Tol Cipularang.

Kondisi arus kendaraan di sekitar Tol Cipularang, Purwakarta, dilaporkan macet total sepanjang 5 kilometer sejak 29 April dini hari. Kemacetan ini karena kendaraan menunggu untuk dibukanya kembali jalur dari Gerbang Tol Kalihurip Utama ke Tol Cikampek.

Arus lalu lintas di Tol Cipularang dari arah Bandung menuju Jakarta lumpuh total. Kendaraan berhenti dan tidak bergerak sama sekali mulai dari pintu masuk Tol Kalihurip Utama sampai beberapa kilometer ke belakang.

Kemacetan terjadi dari KM 100 sampai KM 81 hingga mengarah ke Gerbang Tol Sadang menuju arah Jakarta. Kemacetan ini membuat orang-orang yang terjebak geram hingga memblokir jalur arah Bandung Tol Cipularang.

Bahkan, kemacetan Cipularang tahun lalu juga sempat viral lantaran banyak orang yang terjebak macet melakukan kegiatan lain untuk melepas rasa bosan.

5. Kemacetan Parah Pelabuhan Merak (2022)

Tak hanya di Tol Cipularang saja, kemacetan parah juga terjadi di Pelabuhan Merah pada arus mudik Lebaran tahun lalu.

Lalu lintas menuju Pelabuhan Merak pernah dikenang dalam satu momen kemacetan horor. Hal itu dialami para pemudik di musim angkutan lebaran 2022.

Kemacetan horor terjadi mencapai puncaknya pada H-2 lebaran, Sabtu, 30 April 2022. Macet sepanjang 10 kilometer terjadi di Jalan Cikuasa Atas, Kota Cilegon, Banten. Sedangkan ruas jalan tol Tangerang-Merak dipadati kendaraan sepanjang 9 kilometer.

Macet dipicu penutupan pelabuhan selama enam jam lantaran cuaca buruk. Kala itu banyak pemudik pingsan di dalam mobil karena lemas, dehidrasi berat, hingga muntah-muntah lantaran terlalu lama mengantre.

Puluhan ribu pemudik yang menggunakan sepeda motor turut mengalami kemacetan parah meski melewati jalan khusus. Cuaca buruk atau hujan menambah kesan horror mudik 2022 bagi pemotor. Tidak ada fasilitas tenda yang disiapkan mengantisipasi skenario buruk tersebut.

Bahkan, macet horor di Pelabuhan Merak tersebut menjadi catatan tersendiri Presiden Jokowi pada tahun lalu.

Alhasil, agar tidak terulang lagi kejadian yang sama pada arus mudik Lebaran 2023, pemerintah melakukan tindak pencegahan dengan memecah arus kendaraan yang ingin menyeberangi Pelabuhan Merak.

Untuk kendaraan roda empat atau lebih, penyeberangan tetap dilakukan di Pelabuhan Merak. Sedangkan untuk kendaraan roda dua, dialihkan menuju Pelabuhan Ciwandan di Cilegon, Banten.

Langkah pemerintah yang memisahkan pelabuhan penyeberangan Jawa-Sumatra antara kendaraan roda empat lebih dan roda dua pun dinilai berhasil pada arus mudik dan arus balik Lebaran Idul Fitri 1444 H atau 2023. Saat itu, penumpukan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni hampir tidak terjadi.

Alhasil, langkah yang cenderung berhasil dilakukan pada lebaran tahun lalu kemudian akan diterapkan kembali oleh pemerintah pada lebaran tahun ini. Diharapkan, langkah ini juga akan memecah kemacetan yang kerap terjadi sebelum 2023 di Pelabuhan Merak.

6. Harga Tiket Pesawat Naik Gila-Gilaan

'Mudik neraka' tak selalu dinotasikan sebagai kemacetan parah di jalur darat, tetapi juga dinotasikan kepada hal-hal lain yang masih berhubungan dengan arus mudik atau balik.

Salah satunya yakni harga tiket pesawat yang sangat mahal di periode 2018-2019, di mana kabar ini juga mempengaruhi tingkat pemudik yang ingin melakukan mudik menggunakan pesawat saat itu.

Diketahui, mahalnya harga tiket pesawat saat itu telah membuat jumlah penumpang domestik anjlok. Badan Pusat Statistik (BPS) saat itu mencatat jumlah penerbangan domestik mengalami penurunan hingga 1,45 juta orang.

Jika pada Oktober 2018, jumlah penerbangan mencapai 8,11 juta, maka angkanya terus menurun hingga 7,93 juta pada Desember 2018 dan 6,66 juta pada Januari 2019.

Dari data BPS sepanjang Januari 2019, penerbangan domestik mengalami penurunan sebesar 16,07% (month-to-month/mtm) dan 12,55% (year-on-year/yoy).

Kenaikan harga tiket pesawat, ditambah persoalan bagasi berbayar ini sebelumnya telah menuai dampak di berbagai bandara di Indonesia.

Pada arus mudik 2019, tiket pesawat yang sangat mahal tersebut pun turut mempengaruhi jumlah pemudik yang ingin mudik menggunakan pesawat.

Terhitung, jumlah penumpang pesawat untuk mudik 2019 turun sebanyak 40%, jika dibandingkan dengan periode mudik H-7 pada 2018, menurut Ketua Harian Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran 2019 Kemenhub.

Akibat mahalnya tiket pesawat saat itu, banyak penumpang yang akhirnya membatalkan perjalanannya menggunakan pesawat dan beralih ke moda transportasi lainnya, seperti bus, kapal laut, atau kereta api.

Bahkan akibat mahalnya tiket pesawat, pemudik pendatang di Aceh Barat yang ingin mudik Lebaran ke daerah asal seperti Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan lebih memilih penerbangan transit di bandara di negara Jiran Malaysia.

Saat itu, harga tiket pesawat di rute domestik dari Aceh Barat ke Jakarta dan sejumlah daerah di Jawa, Sulawesi dan Kalimantan rata-rata di atas Rp 2 juta.

Menurut pengakuan warga pemohon paspor saat itu didapati bahwa masyarakat di Aceh lebih senang untuk terbang ke Kuala Lumpur di Malaysia dari Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar.

Lalu mereka bisa melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan seperti di Jakarta, dan rute lain di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan daerah lainnya di Indonesia.

Sementara itu di Pulau Jawa, terutama bagi pemudik yang ingin mudik ke Surabaya, Malang, atau Yogyakarta, mereka pun beralih menggunakan kereta api karena harganya relatif lebih murah, meski waktu tempuhnya cenderung lebih lama ketimbang pesawat.

Mahalnya tiket pesawat kembali dikeluhkan masyarakat pada 2024. Harga tiket untuk rute-rute favorit seperti Makassar, Aceh, atau Padang melonjak drastis.

Dari pantauan CNBC Indonesia pada 20 Maret 2024 di situs jual beli tiket online Traveloka, harga tiket pesawat Jakarta-Padang pada 6 April 2024 atau H-4 Lebaran termahal dipegang Batik Air + Super Air Jet seharga Rp 5.267.600. Namun penerbangan ini tak langsung dari Jakarta ke Padang.

Para penumpang akan dilayani terlebih dahulu dengan penerbangan dari Jakarta (CGK) ke Kuala Lumpur (KUL) dengan Batik Air. Kemudian, sampai di Kuala Lumpur, penumpang akan pindah pesawat ke Super Air Jet menuju Padang (PDG). Total waktu yang dibutuhkan penumpang menggunakan penerbangan tersebut adalah 9 jam 30 menit.

Sedangkan penerbangan lain juga menawarkan hal serupa dengan Batik Air + Super Air Jet. Misalnya Air Asia Berhad (Malaysia) yang menawarkan penerbangan Jakarta-Padang via Kuala Lumpur dengan harga tiket Rp 3.218.261 sampai Rp 3.465.819 dengan lama perjalanan 10 jam 40 menit hingga terlama.

Pada penerbangan reguler atau hari-hari biasa, penerbangan Jakarta-Padang via Kuala Lumpur dengan Air Asia maupun Batik Air dipatok Rp 1.017.600 sampai Rp 1.047.060.

Editor: Dika Febrian
Sumber: Diolah berbagai sumber/CNBCIndonesia





Baca Juga