Promo

Tentang Memaafkan (tapi) Tak Melupakan

Rabu, 17 September 2025 14:33 WIB | 1.437 kali
Tentang Memaafkan (tapi) Tak Melupakan

Ilustrasi


Is this the real life?  Is this just fantasy? Caught in a landside No escape from reality Open your eyes Look up to the skies and see  I'm just a poor boy I need no sympathy Because I'm easy come, easy go Little high, little low.  Any way the wind blows doesn't really matter to Me, to me (Bohemian Rhapsody, Queen - Album A Night At Opera)

marikitabaca - Suatu sore itu, hujan sedang gembira-gembiranya turun ke bumi. Bukan lagi rintik, tapi ramai.

Terpaksa rencana untuk berkunjung ke rumah kawanpun harus ditunda. Hanya ada satu cara membuang gabut yang melanda. Nonton film di layar kaca.

Salah satu platform aplikasi berbayar jadi pilihan. Karena sudah kepalang berlangganan, sudah mengeluarkan biaya, sayang kalau tidak dipakai.

Sore itu film 'Bohemian Rhapsody' jadi pilihan. Walaupun sudah pernah saya tonton di bioskop tapi tetap saja, film ini harus diulang.

Alasannya jelas; Queen adalah salah satu band favorit. Kedua, kisah Freddie Mercury di film itu sangat menonjol. Dan yang tak kalah penting musikalitas di film garapan Bryan Singer itu luar biasa, bikin merinding, apalagi di bagian konser Live Aid, di Wembley Stadion tahun 1985.

"Ada, ya band yang bisa membuat stadion seperti itu hampir meledak!," kata kawan.

Apalagi baru tahu bahwa semua scene, semua kejadian di konser itu, bahkan tata letak propertinya, dibikin sepersis mungkin dengan aslinya. Karena saya membuktikan langsung, buka Youtube demi membuktikan kebenaran setting film itu.

Ada beberapa bagian di film yang diproduksi tahun 2018, yang sangat menyentuh rasa terdalam manusia, gambaran hidup dan realita sosial.

Dan, dari keseluruhan rangkaian kisah di film itu, ada satu bagian di film itu yang menggambarkan adegan-adegan hancurnya kehidupan Freddie Mercury karena terlalu gampang mempercayai seseorang pria bernama Paul Prenter.

Mempersilakan seseorang dengan gampang masuk ke kehidupannya seperti Paul Prenter, menjadikan itu awal kehancuran seorang pria gigi tonggos, imigran, homoseksual, pengidap HIV, seorang quadruple minority (situasi di mana terdapat empat kelompok orang yang berbeda, masing-masing dianggap sebagai minoritas dalam populasi yang lebih besar, atau mungkin menggambarkan situasi di mana suatu kelompok mengalami penindasan atau marginalisasi berdasarkan empat aspek identitas mereka yang berbeda.) ini.

Paul adalah pria yang masuk ke kehidupan Freddie, menjadi kekasih gay Freddie (walaupun masih belum ditemukan bukti apakah Freddie juga mengakui bahwa Paul adalah kekasihnya, atau hanya sebagai pemuas diri Freddie belaka), ia mampu mengambil hati Freddie, membuat Freddie menjadi manusia yang lupa segalanya, bahkan menjadi sosok yang menghancurkan Mary Austin, wanita yang menjadi cinta pertama Mercury. Wanita yang selalu ada untuk Freddie, no matters what.

Mercury dan Paul terlalu dalam membuat kerusakan di kehidupan Mercury dan Queen keseluruhan, juga menghancurkan Mary. Nafsu Paul yang ingin menguasai hidup Mercury, ditambah dengan naifnya Mercury, membuat semua orang terdekatnya muak. Hingga Queen merencanakan membubarkan diri karena tak tahan dengan keduanya. Dan Mary memilih move on.

Suatu malam, Mary merindukan sosok Freddie. Mary datang ke vila di mana Freddie dan Paul tinggal. Di sana Mary melihat Freddie Mercury terbaring dengan botol minuman keras dan narkoba di sekelilingnya. Sementara Paul saat itu sedang entah di mana, dengan siapa, berbuat apa. Tapi bukan Yolanda.

Bagi saya, itulah adegan yang menjadi titik balik di film ini. Titik balik di mana Mercury merasa telah dimanfaatkan oleh Paul sejak keduanya menghianati Mary. Baik secara materi, jiwa maupun kehidupan seks.

Sementara 'ejakulasi' di film ini, tentu saja adegan di konser Live Aid! Freddie ingin meminta maaf kepada band. Dan dalam satu kesempatan mereka berempat, Freddie Mercury, Bryan May (gitaris), Roger Taylor (drummer) dan John Deacon (bassis) bertemu di kantor manajer mereka Jim Beach.

Di situ Freddie meminta maaf telah menghancurkan semua. Mimpi band hingga kehidupannya sendiri. Singkat cerita, mereka bertiga memaafkan Freddie karena satu hal; mereka harus tampil di Live Aid, konser terbesar dalam sejarah untuk misi kemanusiaan Afrika. 

Namun mereka menolak untuk melupakan kesalahan yang telah dilakukan Freddie.  Ketiganya memberikan pelajaran, bahwa memaafkan itu mudah, namun untuk melupakan, tentu tidak. Luka itu dalam.

Namun mereka harus berbesar hati karena ada hal yang lebih besar yang harus difikirkan, yaitu konser kemanusiaan yang memang akhirnya tercatat sebagai salah satu konser terbesar di planet bumi. But well, Freddie, i don't care who u are, you and Queen still be my fu*king band ever.

Ungkapan "memaafkan mudah, melupakan susah" berarti bahwa mudah untuk memutuskan secara sadar untuk melepaskan kemarahan dan tidak menyimpan dendam, tetapi sulit untuk menghilangkan ingatan tentang kejadian menyakitkan tersebut sehingga tidak muncul lagi dalam pikiran dan perasaan.

Memaafkan adalah tindakan emosional dan rasional yang berfokus pada hati, sedangkan melupakan adalah proses kognitif yang berurusan dengan memori dan pikiran.

Memaafkan adalah upaya untuk membersihkan hati agar tidak lagi menyimpan kebencian atau keinginan untuk membalas dendam terhadap orang yang telah menyakiti.

Melupakan? Berkaitan dengan bagaimana pikiran bekerja, khususnya dalam menghilangkan ingatan tentang suatu kejadian.

Seringkali sulit untuk benar-benar menghapus ingatan, terutama jika kejadian itu adalah pengalaman traumatis atau menyakitkan.

Melupakan secara ideal berarti ingatan tidak lagi memicu rasa sakit atau kemarahan, sehingga peristiwa tersebut tidak lagi membayangi pikiran. 

Seperti luka fisik yang butuh waktu dan perawatan untuk sembuh, memulihkan diri dari luka emosional juga membutuhkan waktu. 

Pada akhirnya, memaafkan adalah tentang melepaskan dan melanjutkan hidup tanpa beban negatif, sementara melupakan adalah upaya yang lebih sulit untuk membuat ingatan itu tidak lagi berpengaruh secara emosional

"Whatever happens, I'll leave it all to chance Another heartache, another failed romance, on and on Does anybody know what we are living for? I guess I'm learning I must be warmer now I'll soon be turning, round the corner now Outside the dawn is breaking But inside in the dark I'm aching to be free" (The Show Must Go On - Queen).

Dan, film itupun selesai.

Penulis: Putra Mahendra


Pilihan Redaksi




Baca Juga