Promo

Kisah Keluarga "Tarzan" yang Tidak Pernah Melihat Manusia

Editor: Dika Febrian | Rabu, 10 Desember 2025 01:13 WIB | 434 kali
Kisah Keluarga "Tarzan" yang Tidak Pernah Melihat Manusia

Keluarga Ho Van Thanh saat ditemukan dan diselamatkan warga.


Keluarga Ho Van Thanh menghabiskan lebih dari empat dekade hidup terisolasi di hutan lebat Provinsi Quang Ngai, Vietnam, jauh dari peradaban modern.

marikitabaca - Kisah mereka dimulai pada 1972 ketika serangan bom Perang Vietnam menghancurkan desa mereka, menewaskan sebagian besar anggota keluarga, termasuk ibu dan dua saudara anak-anak.

Ho Van Thanh, ayah keluarga ini, membawa kedua anaknya, Ho Van Lang dan Ho Van Tri, melarikan diri jauh ke hutan pegunungan yang terpencil, memulai kehidupan yang sepenuhnya terpisah dari dunia manusia.

Selama bertahun-tahun mereka membangun rumah di atas pohon menggunakan bambu, daun, dan serat kayu. Api dibuat dengan gesekan kayu, alat berburu berupa tombak dan pisau sederhana dari besi sisa bom, dan perangkap hewan dibuat dari rotan dan bambu.

Rumah mereka berupa gubuk kecil beratap jerami, kira-kira seluas tujuh kaki persegi, di kaki sebuah pohon besar di Gunung A Pon. 

Satu-satunya pengunjung mereka adalah Ho Van Tri, seorang pria yang tak disadari Thanh juga adalah putranya. Selama puluhan tahun, Tri adalah satu-satunya pengunjung mereka, ia membawakan persediaan garam, minyak tanah, dan pisau untuk kerabatnya.

Ia memohon mereka untuk pulang, tetapi ayahnya tak pernah percaya bahwa keadaan sudah cukup aman untuk kembali. Bahkan ketika bayi kecil itu tumbuh menjadi laki-laki dan kemudian dewasa, keduanya tetap tinggal di sana. Tri adalah satu-satunya pengunjung yang mereka percayai.

Makanan mereka berasal dari berburu hewan kecil, menangkap ikan dengan jebakan alami, serta mengumpulkan akar, umbi, dan buah hutan. Tidak ada konsep uang, tulisan, atau teknologi. Pakaian dibuat dari kulit pohon dan daun.

Penduduk desa lain mencoba membawakan mereka perbekalan, tetapi kedua pria itu hanya bersembunyi. Perbekalan yang mereka bawa disembunyikan di dalam gubuk, tak pernah digunakan.

Untuk makanan, para pria mencari makan di hutan, tetapi juga menanam tanaman yang mereka ambil dari ladang di pinggiran hutan. 

Kedua pria liar itu juga menangkap hewan-hewan kecil untuk diambil dagingnya, kebanyakan tikus, dan menyimpan daging keringnya di gubuk selama musim dingin. Namun, mereka tidak akan menghabiskan sisa hidup mereka di hutan.

Ayah mereka tidak pernah menceritakan tentang dunia luar atau perempuan, sehingga kedua anaknya tumbuh tanpa menyadari keberadaan manusia lain di luar keluarga mereka.

Pada 2013, warga desa melaporkan jejak manusia di hutan kepada pemerintah lokal. Tim pencari menemukan keluarga ini, yang tampak ketakutan dan berusaha bersembunyi.

Bagi Ho Van Lang dan Ho Van Tri, pertama kali melihat manusia lain di luar ayah mereka adalah pengalaman mengejutkan. Mereka tidak mengenal bahasa modern, kendaraan, lampu listrik, atau keramaian kota.

Penemuan ini membuka fakta mengejutkan bahwa perempuan memang ada, sesuatu yang baru mereka sadari setelah bertahun-tahun hidup di hutan.

Adaptasi ke kehidupan modern berlangsung sulit bagi seluruh keluarga. Lingkungan baru, kebisingan, cahaya, dan interaksi sosial memberi tekanan besar bagi tubuh dan mental mereka.

Antropolog yang mendampingi mencatat bahwa perubahan mendadak dari kehidupan primitif ke dunia modern memengaruhi kesehatan dan psikologis mereka. Pola makan yang berubah dan paparan makanan modern turut melemahkan kondisi fisik.

Ho Van Lang meninggal pada 2021 akibat kanker hati pada usia 52 tahun, sementara Ho Van Tri dan Ho Van Thanh menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri tetapi tetap bertahan sebagai keluarga. 

Perjalanan mereka menjadi simbol ketangguhan manusia, kemampuan bertahan hidup, dan kontras tajam antara kehidupan alam liar dan kompleksitas peradaban modern.

Cerita keluarga ini telah dikonfirmasi oleh media internasional seperti BBC, The Guardian, National Geographic, serta pemerintah Vietnam, menjadi saksi nyata kehidupan di antara dua dunia berbeda, antara kesunyian hutan dan hiruk-pikuk peradaban.

Editor: Dika Febrian
Sumber: Diolah


Pilihan Redaksi:




Baca Juga

Negeri Pembenci Kristen
Kamis, 25 Desember 2025 15:29 WIB
Hukuman Sadis di Lubang Anus
Rabu, 17 Desember 2025 14:15 WIB