Promo

Misteri Kelahiran Ika, Gadis Cantik yang Nyasar

Editor: Dika Febrian | Rabu, 03 Desember 2025 05:37 WIB | 488 kali
Misteri Kelahiran Ika, Gadis Cantik yang Nyasar

Shafira Ika Putri Kartini


Sejak kecil, Ika tumbuh sebagai anak perempuan yang “nyasar” di dunia yang didominasi laki-laki. Dia belajar bola di berbagai SSB di Surabaya dan Sidoarjo, sering jadi satu-satunya pemain cewek di lapangan.

marikitabaca - Bukan sekali dua kali dia, Shafira Ika Putri Kartini, dianggap remeh, dipandang cuma “cewek yang numpang main” atau malah disarankan cari olahraga lain. 

Di usia teman-temannya masih bebas main, Ika yang kelahiran 21 April 2003 di Kepulauan Bangka Belitung ini, sudah harus tahan jadi bahan candaan, demi bertahan di lapangan yang ia cintai.

Ketika pertama kali membela Timnas kelompok umur, hasilnya jauh dari manis. Di Piala AFF U-15 dan U-16, Indonesia gagal lolos dari fase grup, kalah dari Filipina dan Singapura.

Buat banyak orang, itu cuma angka di klasemen. Tapi buat Ika remaja, itu malam-malam penuh air mata, mempertanyakan: “Aku ini benar-benar cukup bagus nggak sih?” Di saat teman-teman sebaya sibuk dengan dunia sekolah dan nongkrong, dia harus menelan kecewa di negara orang, pulang tanpa piala, hanya membawa lelah dan keraguan.

Belum selesai dengan rasa gagal, sepak bola putri Indonesia justru diguncang dari dalam. 

Pada 5 Oktober 2023, Persis Solo Putri — klub yang ia bela — dibubarkan karena tidak ada kepastian kompetisi Liga 1 Putri.

Kontrak terhenti di tengah jalan, ruang ganti yang biasanya ramai mendadak kosong, dan masa depan yang tadinya jelas berubah jadi tanda tanya. Bayangin: kamu sudah berjuang, akhirnya dapat tempat di klub profesional, tapi tiba-tiba semuanya hilang bukan karena kamu jelek main, tapi karena sistem yang nggak berpihak.

Di luar lapangan, orang hanya melihat sosok Shafira Ika yang cantik, senyum manis, disebut “bak model” oleh media dan netizen. Tapi mereka nggak melihat betapa berat tekanan yang harus ia pikul sebagai kapten Timnas Putri; setiap hasil pertandingan, setiap kesalahan di lini belakang, seolah ikut menempel di namanya. 

Cidera yang pernah ia alami, rasa sakit fisik yang justru ia sebut sebagai “terapi” karena hanya di lapangan ia merasa paling hidup, juga jarang terekspos publik.

Saat banyak klub putri vakum, liga diundur, bahkan masa depan karier pemain perempuan digantung tanpa kejelasan, Ika harus tetap tersenyum di depan kamera, menjawab wawancara dengan kalimat optimis, seolah semuanya baik-baik saja. 

Padahal di dalam hati, ada ketakutan: “Kalau liga nggak jalan, aku akan main di mana? Karier ini bisa bertahan sampai kapan?” Tawaran dari klub Asia dan Eropa datang, tapi ia juga terikat dengan tanggung jawab di Timnas dan keadaan kompetisi dalam negeri yang belum stabil.

Kisah sedih Shafira Ika adalah kisah tentang seorang gadis yang terus berlari mengejar mimpi di jalur yang belum benar-benar disiapkan. 

Dia harus berdamai dengan kegagalan tim, menerima klub yang tiba-tiba bubar, hidup di tengah liga yang tak menentu, sambil menutupi semua itu dengan senyum di depan suporter. 

Di balik ban kapten dan sorak sorai, ada hati yang berkali-kali patah, tapi selalu ia sambung lagi — hanya karena satu hal sederhana: ia terlalu mencintai sepak bola untuk menyerah.

Shafira Ika Putri sudah nyaman dengan sepakbola. Atlet berusia 21 tahun ini menganggap bermain dengan si kulit bundar bagaikan terapi baginya.

Ika, begitu ia karib disapa, merupakan kapten Timnas putri Indonesia. Namanya kian populer setelah timnya mencatatkan sejarah dengan menjuarai Piala AFF Putri 2024.

Kesuksesan itu tentu tak diraihnya dengan mudah. Pesepakbola kelahiran 21 April 2003 itu bercerita banyak proses jatuh bangun yang harus ia lalui untuk merengkuh prestasi. 

Termasuk ketika ia memilih sepakbola sebagai jalan hidupnya.

"Dulu aku bulutangkis cuma dislokasi tangan jadi beralih ke sepakbola. Awalnya sempat ragu sih, orang tua juga sempat melarang. Tapi enggak tahu saja, feeling aku kayak sudah kuat," kata Ika, saat berbincang-bincang dengan detikSport.

"Lalu ayah juga selalu bilang, kalau kamu sudah masuk sepakbola kamu tak boleh keluar lagi. Kamu harus benar-benar yakin dengan kemauan kamu dan kamu harus rajin dan disiplin untuk mengejar itu, dan ya sampai sekarang," tuturnya.

Keyakinan bek Timnas Putri Indonesia itu semakin mantap karena mendapat dukungan dari sang mama, walaupun tak jarang banyak yang berpandangan sebelah mata terhadap dirinya.

"Aku selalu di-support mama ya, kayak enggak usah dipikirkan, kasih saja yang terbaik. Jadi lebih ke lingkungan sih yang memberi dukungan," tutur atlet yang mengidolakan pesepakbola putri Alex Morgan ini.

Tercatat, Shafira Ika sudah menjalani internasional kariernya sejak U-16 pada tahun 2018. Sementara untuk level senior, dia pernah merumput di klub Tira Persikabo (2019-2020), Arema (2020-2022), Persis Solo (2022-2023), dan DKI Jakarta.

Dari perjalanan panjang itu, proses up and down sudah dilewatinya. Tak terkecuali saat mengalami cedera kepala serius. Sampai-sampai sempat membuat mamanya trauma.

"Terakhir aku main turnamen Piala AFF, aku sempat mengalami cedera kepala serius. Sempat geger otak ringan. Lalu pelipis aku pecah, jadi yang trauma mama, takut aku kenapa-kenapa. Makanya setiap after match itu mama selalu nanya, bagaimana keadaan kamu habis main, badan kamu ada yang cedera enggak?"

Saat terakhir final (Piala AFF 2024) itu aku telepon mama langsung, dan itu mama nangis takut aku kenapa-kenapa, karena setiap aku telepon itu selalu kenapa-kenapa gitu kan. Ternyata aku sudah bawa pialanya, itu senang banget karena sudah bisa menghilangkan rasa trauma mama," tuturnya.

Kini, bagi Ika sepakbola sudah menjadi bagian hidup yang tak bisa dipisahkan. Kendati sepakbola putri sampai saat ini belum sepenuhnya dilirik publik selayaknya Timnas putra.

"Aku lebih ke sudah enjoy main bola jadi aku enggak bisa kalau sehari tak bisa latihan bola. Kayak gitu. Jadi kayak lebih happy saja, sepakbola itu seperti terapi buat aku," katanya.

"Saya berharap dengan gelar juara ini bisa membuka masa-masa kejayaan Timnas Indonesia agar bisa lebih baik dan berkembang ke depannya," ucap Shafira Ika.

Namun, terdapat ketidakkonsistenan mengenai tempat lahir Shafira Ika Putri Kartini — inilah detailnya:

Banyak laporan menyebutkan bahwa dia lahir di Bangka Belitung, Indonesia (Provinsi Bangka Belitung). Namun ada juga sumber yang mencantumkan bahwa tempat lahirnya adalah Surabaya, Indonesia. 

Beberapa media menyebut Bangka Belitung, sebagian lain menyebut Surabaya. Karena itu — tidak ada konfirmasi publik yang dapat dipastikan dengan absolut mengenai tempat lahir Shafira Ika.

Biodata Shafira Ika Putri Kartini:

• Nama Lengkap: Shafira Ika Putri Kartini
• Tanggal Lahir: 21 April 2003
• Tempat Lahir: Bangka Belitung
• Usia: 22 tahun (per 2025)
• Agama: Islam
• Tinggi: 163 cm
• Posisi: Pemain bertahan (bek)
• Klub: Saat ini bermain untuk Asprov DKI Jakarta
• Tim Nasional: Timnas Putri Indonesia
• Pencapaian: Pernah membela Timnas Putri U-16, Sea Games 2019, Piala Asia 2022, dan AFF Women's Championship 2022 

Editor: Dika Febrian
Sumber: Diolah


Pilihan Redaksi




Baca Juga

Rima Kegagalan dan Bebal Abadi PSSI
Sabtu, 18 Oktober 2025 18:09 WIB
Kisah Satu Malam Eric "Si Belut"
Jum'at, 15 Agustus 2025 04:31 WIB
SBC Selindung Juara PSL 2024 tanpa Terkalahkan
Minggu, 15 September 2024 12:03 WIB