Promo

Mengenang Konflik Etnis Paling Brutal di Indonesia: Sampit

Rabu, 19 November 2025 00:10 WIB | 1.012 kali
Mengenang Konflik Etnis Paling Brutal di Indonesia: Sampit

Seorang pria sedang berhenti di depan lokasi pemakaman korban tragedi Sampit


Konflik mematikan antara etnis Dayak dan Madura meledak di Sampit, Kalimantan Tengah, pada Februari 2001. Dalam hitungan hari, kota yang semula tenang berubah menjadi ladang pembantaian massal.

marikitabaca - Lebih dari 500 orang tewas, banyak yang dipenggal, dibakar, bahkan dimutilasi di ruang publik. Sekitar 100.000 warga Madura mengungsi, rumah-rumah dibakar, dan trauma etnis tersisa hingga kini.

Akar konflik ini sudah lama tertanam. Program transmigrasi era Orde Baru mendorong ribuan orang Madura menetap di Kalimantan. 

muncul pula stereotip bahwa sebagian warga Madura bersikap dominan, kasar, dan tidak menghargai masyarakat Kalimantan. 

Tuduhan semacam ini memupuk kemarahan dalam diam. Beberapa konflik kecil sebelumnya sempat terjadi, namun tak pernah ditangani secara tuntas.

Pada 17 Februari 2001, sebuah insiden kekerasan di Desa Kereng Pangi menjadi pemicu. Seorang warga Dayak tewas dalam bentrokan dengan tiga orang Madura. 

Keesokan harinya, rumah-rumah Dayak di Sampit dibakar. Balasan pun datang. Ribuan orang Dayak bersenjata tradisional seperti mandau, tombak, dan sumpit menyerbu permukiman Madura. Kekerasan menjalar cepat ke kota-kota lain seperti Palangkaraya, Pangkalan Bun, dan Kuala Kapuas.

Cerita-cerita mengerikan muncul dari lapangan. Beberapa warga yang dievakuasi oleh TNI menggunakan truk militer ditemukan tewas dengan kepala terpenggal. Dalam versi yang beredar, pasukan pengaman awalnya tak menyadari apapun. 

Namun saat truk berhenti dan mereka mengecek bagian belakang, para penumpang Madura telah tak bernyawa, kepala mereka tercerai dari tubuh. Tidak jelas bagaimana serangan itu bisa terjadi tapi narasi ini menyebar luas sebagai bukti betapa terorganisir dan brutalnya serangan yang terjadi.

Cerita lain yang menyebar adalah tentang bagaimana suku Dayak bisa mengenali orang Madura dari jarak dekat hanya melalui bau tubuh. Dalam konflik tersebut, beredar anggapan bahwa orang Madura memiliki bau khas seperti "bau sapi" karena banyak bekerja di sektor penyembelihan dan peternakan.

Stereotip ini menjadi alat identifikasi etnis di tengah konflik, dan konon dipakai di pos-pos jalan untuk menyaring siapa yang “harus dieksekusi.” Meski tak terbukti secara ilmiah, keyakinan ini menambah nuansa mistis dan horor dalam konflik tersebut.

Respons aparat saat itu dianggap lamban dan setengah hati. Pasukan pengamanan tidak segera dikerahkan secara maksimal, sehingga kekerasan meluas tak terkendali. 

Beberapa aparat bahkan dituding melakukan pembiaran. Setelah tekanan publik nasional dan internasional meningkat, barulah militer diterjunkan secara penuh untuk menertibkan wilayah, namun saat itu korban sudah berjatuhan.

Konflik Sampit bukan hanya tentang dua etnis yang bertikai. Ini adalah hasil akumulasi ketimpangan ekonomi, kegagalan integrasi sosial, stereotip yang dibiarkan berkembang, dan ketidakhadiran negara saat keadilan dan ketertiban diuji.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa ketika prasangka dan diskriminasi dibiarkan tumbuh, ia bisa berubah menjadi amarah kolektif yang membakar segalanya. 

Indonesia yang majemuk tak bisa bertumpu hanya pada slogan “Bhineka Tunggal Ika,” tetapi harus dibarengi dengan keadilan nyata, perlindungan setara, dan penghormatan atas martabat setiap warga apa pun asal-usulnya.

Untold Story

Pada malam hari di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, tepatnya pada Minggu dini hari tanggal 18 Februari 2001 tepat pukul 01.00 WIB, sekelompok warga Dayak menyerang rumah seorang warga Madura yang bernama Matayo yang berada di Jalan Padat Karya. Setelah kejadian tersebut, empat orang dinyatakan meninggal dunia serta 1 orang luka berat, dan semuanya warga Madura.

Serangan yang diduga aksi balas dendam itu mendapat perlawanan. Pagi harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, sejumlah warga Madura mendatangi rumah seorang warga Dayak yang Bernama Timil yang diduga menyembunyikan salah satu pelaku penyerangan.

Saat itu Timil berhasil diamankan polisi, tetapi warga Madura yang tak puas langsung membakar rumahnya. Warga Madura yang marah juga menyerang rumah kerabat dari warga Dayak dan menewaskan 3 penghuninya.

Tak selang berapa lama dari kejadian tersebut, tepatnya pukul 12.00 WIB, pasukan Brimob Polda Kalimantan Selatan sebanyak 103 personel dengan kendali BKO Polda Kalteng tiba di Sampit. Puluhan tersangka berikut barang bukti senjata tajam dibawa ke Mapolda Kalteng di Palangka Raya. Namun, situasi tak kunjung kondusif.

Hingga pada keesokan harinya, tepatnya pada Senin, 19 Februari, banyak ditemukan sejumlah jasad tergeletak di berbagai sudut kota Sampit.

Demikian pula dengan aksi penyerangan rumah serta pembakaran kendaraan. Kondisi ini membuat Wakil Gubernur Kalteng mengirimkan bantuan 276 personel TNI dari Yonif 631/ATG ke Sampit pada malam itu juga.

Saat itu konflik situasi makin mencekam, pada 18 dan 19 Februari 2001, Kota Sampit sepenuhnya dikuasai warga dari Madura. 

Selama dua hari sejak penyerangan rumah Matayo, warga Madura berhasil bertahan, bahkan berani melakukan sweeping terhadap permukiman-permukiman warga Dayak.

Namun, kondisi ini berbalik pada tanggal 20 Febuari 2001, ketika sejumlah besar warga Dayak dari luar kota berdatangaan ke Sampit. 

Warga Dayak pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya, seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito berdatangan ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan.

Ratusan warga Dayak itu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya yang merupakan pusat permukiman warga Madura.

Mereka mampu memukul balik warga Madura yang terkonsentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Pada saat itu kota Sampit dilumuri darah saking hebatnya peperangan atau konflik yang terjadi.

Ini semua merupakan awalan Kronologi konflik dari tragedi sampit dan selanjutnya berikut konflik ini juga di picu faktor-faktor yang singkat dan jelas, sepeti:
Kecemburuan sosial antara warga Dayak dan Madura. Warga Dayak merasa bahwa warga Madura telah mengambil alih lahan dan sumber daya alam di Kalimantan Tengah.

Perbedaan budaya antara kedua suku

Warga Dayak dan Madura memiliki budaya dan tradisi yang berbeda, yang terkadang menimbulkan konflik.

Kurang meratanya pembangunan di Kalimantan Tengah menyebabkan kesenjangan sosial antara warga Dayak dan Madura.

Konflik Sampit mengakibatkan kerugian materi dan non-materi yang sangat besar. Kerusakan fisik akibat konflik ini mencapai miliaran rupiah. Selain itu, konflik ini juga menimbulkan trauma dan perpecahan sosial di Kalimantan Tengah.

Hampir sama dengan kerusuhan Sambas, Perang Sampit juga melibatkan warga lokal yakni Suku Dayak dan Suku Madura. 

Kerusuhan Sampit juga dipicu persaingan perekonomian antara warga pendatang yakni Suku Madura dan warga lokal yakni Suku Dayak.

Dari catatan yang ada, Suku Madura mulai berdatangan ke Madura sejak program transmigrasi era Belanda tahun 1930 yang lantas dilanjutkan pada era Orde Baru. 

Hingga tahun 2000 setidaknya 21 persen populasi warga Kalimantan Tengah dikuasi oleh pendatang.

Beberapa sumber menyebutkan Konflik Sampit dipicu empat insiden, yakni pembakaran sebuah rumah Dayak; kemudian adanya penyerangan terhadap Suku Dayak; serta adanya sengketa judi yang berujung perkelahian antara Suku Dayak dan Suku Madura di Desa Kerengpangi, 17 Desember 2000.

Selain itu juga ada sumber yang menyebutkan bahwa konflik ini dipicu percekcokan antara murid Suku Dayak dan Madura.

Perang Sampit lantas pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang sejumlah warga Suku Dayak. Konflik ini lantas meluas hingga ke hampir seluruh daerah di Kalimantan Tengah.

Mayat-mayat ditemukan bergelimpangan di jalanan. Akibat konflik ini, 500 warga tewas dengan 100 di antaranya dipenggal kepalanya dan lebih dari 100.000 rumah Warga Madura dirusak.

Suku Dayak memang memiliki ritual pemburuan kepala (Ngayau) yakni ritual memenggal kepala musuhnya. Namun ritual ini sebenarnya telah ditinggalkan sejak awal abad ke-20.

Panglima Burung

Perang Sampit dan Sambas juga menyertakan suku Dayak pedalaman yang konon turun langsung dan dipimpin Panglima Burung atau Pangkalima, sosok Suku Dayak yang konon terkenal sakti mandraguna.

Panglima Burung sebenarnya adalah sosok yang selalu mengalah, cinta damai, suka menolong, pemalu dan sangat sederhana. 

Namun Panglima Burung akan menjadi sosok yang pemberani dan menakutkan jika Suku Dayak selalu disudutkan dan diancam.

Panglima Burung bisa menciptakan mandau atau golok terbang yang ketika dilemparkan akan mengikuti musuhnya dan menebas kepala musuh dengan sekali tebasan. 

Panglima Burung dikisahkan akan selalu membantu Suku Dayak untuk menyelesaikan masalah pelik yang dihadapi.

Jika Panglima Burung atau Pangkalima turun, maka tidak akan ada masalah yang tidak bisa dihadapi bagi Suku Dayak.

Panglima Burung sejatinya adalah panglima mitos, namun sangat diyakini keberadannya oleh warga Suku Dayak.

Selama ini, Panglima Burung diyakini tinggal di daerah gaib pedalaman Kalimantan. Panglima Burung bisa dipanggil dengan menggelar tari perang yang dimainkan warga Suku Dayak.

Pernah di tahun 2017, warga Dayak meyakini adanya pernikahan antara Pangling Burung dengan seorang perempuan bernama Sri Baruno Jagat Prameswari yang konon merupakan titisan dari penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Meski pernikahan gaib, namun Suku Dayak saat itu sempat menyiapkan pesta pernikahan secara nyata.

Tugu Perdamaian Sampit

Tugu Perdamaian Sampit terletak di pusat Kota Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. 

Tepatnya, Tugu Perdamaian Sampit berada di tengah Bundaran Balanga atau Bundaran Pantar di Jalan Soedirman Km 3,2 Trans Kalimantan arah Sampit-Pangkalanbun.

Tugu Perdamaian Sampit dibangun untuk memperingati perjanjian damai antara suku Dayak dan Madura, pihak yang terlibat dalam Konflik Sampit.

Pada awalnya Tugu Perdamaian Sampit disimbolkan dengan monumen kayu dan ukiran khas Dayak. Saat ini, tugu tersebut telah diperindah dengan monumen beton tanpa merobohkan monumen kayu, yang telah ada sebelumnya.

Tugu berupa kubah besar dengan membiarkan tiang pantar tetap berdiri kokoh. Bangunan dikelilingi anak tangga dan ruang terbuka hijau, sehingga suasana sangat asri.

Pada bagian bawah tugu terdapat ruangan yang kerap digunakan sebagai penyelenggaraan kegiatan pameran dan kegiatan lainnya.

Bundaran Balanga sebagai lokasi Tugu Perdamaian Sampit menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi masyarakat untuk berfoto-foto maupun santai.

Banyak penjual makanan di sekitarnya. Lokasi Tugu Perdamaian Sampit berdekatan dengan Islamic Center dan Masjid Agung Wahyu Al Hadi, sehingga kawasan tersebut menjadi tujuan wisata kota yang lengkap.

Editor: Putra Mahendra
Sumber: Diolah


Pilihan Redaksi




Baca Juga

Negeri Pembenci Kristen
Kamis, 25 Desember 2025 15:29 WIB
Hukuman Sadis di Lubang Anus
Rabu, 17 Desember 2025 14:15 WIB