Promo

Pemimpin Agama Yahudi sang Pemecah Belah

Sabtu, 29 November 2025 10:49 WIB | 333 kali
Pemimpin Agama Yahudi sang Pemecah Belah

Rabbi Elliot Cosgrove


Sebuah sikap yang menggambarkan kekhawatiran dan ketakutan kepada perkembangan Islam dan terbangunnya kesadaran politik Komunitas Muslim di Kota New York saat ini.

marikitabaca - Kemarin saya menerima sebuah link video melalui grup WA

Biasanya saya jarang buka video di grup WA karena banyak yang tidak bermutu dan hanya membuang-buang energi dan waktu.

Tapi ketika melihat cover photo video itu saya merasa mengenalnya. Saya pun membuka videonya dan senang, tapi terkejut melihat siapa dan mendengar apa yang disampaikan.

Rabbi Elliot Cosgrove adalah seorang rabbi dan pemimpin spiritual terkemuka di Amerika Serikat. Ia menjabat sebagai Senior Rabbi di Park Avenue Synagogue di New York City sejak 2008.

Rabbi Cosgrove dikenal karena pandangannya yang bijak tentang identitas Yahudi dan isu-isu sosial. Beliau telah menulis 16 volume khotbah dan buku berjudul “For Such a Time as This: On Being Jewish Today”.

Rabbi Cosgrove juga aktif dalam berbagai organisasi Yahudi dan merupakan anggota Council on Foreign Relations.

Saya tidak ingat persisnya, tapi sekitar tahun 2008 lalu saya pertama kali mengenal Rabbi Cosgrove. Ketika itu saya salah seorang Imam di Islamic Center dan dia baru menjabat sebagai Kepala Rabbi di Synagogue itu.

Sang Rabbi mengundang saya hadir dalam acara “Selamat Datang” dan saya hadir. 

Kebetulan Synagogue ini dan Islamic Center (96th street mosque) memang berdekatan.

Saya mendapatkan Rabbi Cosgrove itu dingin, pendiam, lembut, namun terasa ada kharisma kepemimpinannya. Dari pertemuan dan bincang-bincang antara saya dan dia pertama kali saya merasakan jika dia cukup pintar dan fasih (eloquent).

Bahkan ketika memberikan kepada saya 2 bukunya yang merupakan koleksi khutbah-khutbah yang pernah dia sampaikan. Saya menemukan tulisan-tulisannya apik, dalam dan terstruktur dengan sangat baik.

Sejak pertemuan pertama kali itu hampir kami tidak pernah ketemu atau komunikasi kecuali di sebuah acara di Council on Foreign Relation, sebuah Think Tank yang besar di Kota New York.

Kebetulan Rabbi Cosgrove dan saya sama-sama menjadi anggota di institusi yang bergengsi itu.

Video Menyesatkan, Memecah Belah dan Ujaran Kebencian

Setelah mendengarkan video rekaman khutbah yang disampaikan oleh sang Rabbi, Minggu lalu di Synagoguenya, saya terkejut bahkan kecewa.

Rabbi yang saya kenal calm, pintar dan terhormat harusnya bijak. Tetapi khutbah itu saya temukan penuh kesesatan dan penyesatan, kebencian yang mengantar kepada pemecah belahan antar masyarakat Kota New York.

Dan yang lebih mengejutkan lagi hal ini disampaikan di dalam sebuah khutbah di sebuah rumah ibadah yang harusnya dijaga kesakralannya.

Tidak tanggung-tanggung khutbah sang Rabbi dimulai dengan kalimat: “to be clear, unequivocal, and on the record, I believe Zohran Mamdani poses a danger to the security of the New York Jewish Community (untuk lebih jelas, tegas, dan tercatat, saya percaya Zohran Mamdani menimbulkan bahaya bagi keamanan Komunitas Yahudi New York)”. 

Sebuah kalimat pembuka sekaligus kesimpulan dari apa yang ingin disampaikan dalam khutbah itu, tidak saja untuk jamaahnya, tapi juga untuk warga Yahudi di Kota New York.

Kata “dangerous” (berbahaya) dan kata “threat” (ancaman) adalah dua kata yang paling sering diampaikan oleh lawan politik Zohran, termasuk Cuomo dan para pendukungnya dalam beberapa Minggu terakhir.

Cuomo dan Rabbi Cosgrove tidak mengaitkan tuduhan bahaya dan ancama itu dengan agama yang dianut oleh Zohran. 

Mungkin masih ada harapan jika ada sebagian dari Komunitas Muslim yang bisa dibujuk untuk memberkan dukungan kepada lawan politik Zohran itu.

Tuduhan Cuomo kepada Zohran sebagai bahaya dan ancaman pada umumnya dikaitkan dengan ideologi politiknya yang Democratic Socialist.

Tuduhan ini biasanya dibumbui dengan kebohongan seperti Zohran anti polisi, bahkan yang lebih runyam lagi tuduhan Cuomo jika Zohran akan melegalkan prostitusi.

Sementara Rabbi Cosgrove lebih fokus kepada aspek posisi atau sikap politik Zohran terhadap Zionist Israel dan genosida Gaza. 

Posisi Zohran yang tak pernah goyah menentang genosida Pemerintahan Zionist terhadap Gaza dan Palestina menjadi kepanikan dan ketakutan besar bagi Rabbi Cosgrove.

Cosgrove juga menyoroti posisi Zohran yang terbuka tidak mengakui Israel sebagai negara Yahudi. Juga berdasar vonis Mahkamah Pengadilan Internasional kepada Benjamin Netanyahu sebagai penjahat perang menjadikan Zohran mengambil sikap tegas bahwa, jika Natanyahu masuk Kota New York nantinya, dan perundang-undangan membolehkan menangkapnya maka dia akan menginstruksikan kepada Kepolisian New York untuk menangkapnya.

Semua ini menjadi alasan bagi Rabbi Cosgrove untuk menuduh Zohran sebagai ancaman nyata bagi Komunitas Yahudi di New York, bahkan di Amerika.

Menurutnya anti Semitisme atau anti-Yahudi di berbagai kota dan kampus juga disebabkan oleh sikap dan posisi politik Zohran Mamdani tersebut.

Menurutnya lagi, dia harus menyampaikan itu secara terbuka agar tidak terlambat dan menjadi musibah besar bagi masyarakat Yahudi di Kota New York.

Dia bahkan merasa lega dan ringan setelah apa yang ada di dadanya telah dikeluarkan.

Sebagai seseorang yang mengenal dan pernah bertemu dan berkomunikasi langsung, bahkan hadir dan memberkan ceramah singkat di Synagogue, saya terkejut sekaligus sangat kecewa dengan kesimpulan Rabbi Cosgrove itu.

Saya terkejut karena saya anggap selama ini Rabbi Cosgrove adalah seorang Rabbi yang pintar, memiliki kepribadian yang santun dan seharusnya bijak.

Tapi apa yang saya dengarkan di video itu sebaliknya. Khutbah itu menggambarkan kebodohan, kebingungan, kepanikan, kata-kata kebencian dan perpecahan.

Semua orang tahu jika Zohran adalah sosok yang jujur dan terbuka dalam sikap dan posisi politiknya. Zohran dalam menyampaikan pandangan sangat alami dan tidak diada-ada.

Bahkan ketika pandangan dan posisi politik itu dianggap tidak populer bahkan secara kalkulasi politik dianggap merugikan. Salah satunya, posisi Zohran Mamdani terhadap Israel di sebuah kota dengan penduduk terbesar di luar Israel.

Kebingungan Rabbi Cosgrove itu jelas dari kegagalan dia membedakan antara sikap Zohran terhadap agama dan penganutnya, dan pandangan dia terhadap perpolitikan ekstrim zionis di Israel dan dunia. Rabbi Cosgrove pastinya paham bahwa posisi Zohran adalah anti Zionist yang apartheid dan rasis.

Terlebih dengan terbuka Israel yang melakukan Genosida di Gaza. Runyamnya lagi, Rabbi Cosgrove mempermasalahkan Zohran yang menyebut kekerasan di Gaza sebagai Genosida. Padahal penyebutan itu telah menjadi penyebutan dunia internasional, termasuk PBB.

Pada akhirnya saya hanya ingin mengingatkan kembali Rabbi Cosgrove untuk sadar. Jangan bingung dan tetap dalam kebodohan. Apalagi menyebar kebencian serta memecah belah masyarakat Kota New York.

Saya yakin, sikap Rabbi Cosgrove terhadap Zohran itu bukan sekadar kepada Zohran sebagai pribadi. Tapi sebuah sikap yang menggambarkan kekhawatiran dan ketakutan kepada perkembangan Islam dan terbangunnya kesadaran politik Komunitas Muslim di Kota New York saat ini.

Saya juga ingin memberikan nasihat jujur dari hati dan dari pemikiran yang jernih untuk teman-teman Yahudi di Kota New York bahkan dunia. Masanya untuk kalian sadar bahwa ancaman terbesar bagi Umat Yahudi bukan dari seorang Zohran. Bahkan bukan dari kami umat Islam.

Ancaman itu justru datang dari penganut ideologi politik ekstrim rasis dan apartheid.

Mereka mengaku Yahudi, tapi sesungguhnya mereka sedang membangun kekuatan politik destruktif dunia.

Mereka adalah Zionis yang menduduki Palestina saat ini. Apa yang mereka lakukan di Palestina dan Gaza khususnya justru menjadi pintu ancaman besar bagi umat Yahudi dunia ke depan.

Ketika Zohran tidak mengakui Israel sebagai negara Yahudi (Jewish State) hal itu karena dia ingin menyelamatkan wajah umat Yahudi dari perlakuan kaum Zionist yang genocidal

Seharusnya Rabbi Cosgrove tidak melihat Zohran sebagai ancaman. Sebaliknya justru Zohran ingin menyelamatkan umat Yahudi dari representasi yang jahat Zionis.

Tapi di atas semua itu, memang karena Zohran konsisten dengan keadilan untuk semua (justice for all). Sebuah negara, termasuk Israel, adalah milik semua warganya. Bukan hanya sebagian dengan agama atau etnis tertentu. Jelas? (New York, 20 Oktober 2025)

*Terjemahan dari tulisan dalam bahasa Inggris “A Confused and Divisive Rabbi”.

Zohran Akhirnya yang Terpilih

Zohran Mamdani telah mengukir sejarah dengan menjadi wali kota Muslim pertama di Kota New York, sekaligus yang termuda dalam lebih dari satu abad.

Pemilihan tahun ini menarik lebih banyak perhatian dari biasanya. Anggota parlemen Negara Bagian New York berusia 34 tahun ini memulai tahun sebagai kandidat yang kurang dikenal, tetapi telah melesat ke puncak jajak pendapat.

Keunggulannya dalam perolehan suara pemilihan wali kota New York menandai momen penting bagi kaum progresif, menandakan pergeseran pusat gravitasi politik kota tersebut.

Sebelum pemilihan berlangsung, Presiden AS Donald Trump mendesak para pemilih untuk tidak memilih Mamdani. Trump justru mengajak warga mendukung sosok yang kerap mengritiknya, yaitu mantan Gubernur Andrew Cuomo.

Cuomo mencalonkan diri sebagai kandidat independen setelah kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.

"Entah Anda secara pribadi menyukai Andrew Cuomo atau tidak, Anda benar-benar tidak punya pilihan. Anda harus memilihnya, dan berharap dia melakukan pekerjaan yang fantastis," tulis Trump di Truth Social pada Senin malam. "Dia mampu melakukannya, Mamdani tidak!"

Cuomo, yang pernah menjadi tokoh dominan dalam politik Negara Bagian New York, menanggapi dukungan Trump kepadanya: "Dia tidak mendukung saya. Dia menentang Mamdani."

Trump juga menolak mendukung kandidat dari Partai Republik, Curtis Sliwa, yang tertinggal di posisi ketiga dalam perolehan suara. Trump mengatakan, "Suara untuk Curtis Sliwa ... adalah suara untuk Mamdani."

Mamdani dilahirkan di Kampala, Uganda. Pada usia tujuh tahun, dia dan keluarganya pindah ke New York.

Dia menempuh pendidikan di Bronx High School of Science sebelum meraih gelar di bidang Kajian Afrika dari Bowdoin College. Di kampusnya, Mamdani mendirikan cabang Students for Justice in Palestine (Solidaritas Mahasiswa untuk Palestina).

Dalam kampanyenya sebagai bakal calon wali kota New York, Mamdani mengedepankan latar belakangnya yang beragam.

Politikus milenial ini sempat mengunggah video kampanye yang seluruhnya berbahasa Urdu, diselingi klip film Bollywood. Di video lain, Mamdani juga berbicara dalam bahasa Spanyol.

Istri Mamdani, Rama Duwaji, adalah seniman asal Suriah berusia 27 tahun dan tinggal di Brooklyn. Mereka awalnya bertemu melalui aplikasi kencan Hinge.

Ibu Mamdani, Mira Nair, adalah sutradara film ternama dan ayahnya, Profesor Mahmood Mamdani, mengajar di Columbia University.

Kedua orang tuanya adalah alumni Harvard.

Mamdani menampilkan citra sebagai kandidat dari rakyat dan seorang organisator.

"Perubahan jalan hidup adalah hal yang tak terhindarkan," demikian penggalan dari profil Mamdani di situs parlemen.

Mamdani sempat menjajaki dunia film, rap, dan menulis. Namun, sesuai profilnya, dia menekankan bahwa kemampuannya mengelola adalah yang paling nyata.

"Kegiatan mengorganisasi, memastikan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia tidak membawanya pada keputusasaan, melainkan pada tindakan," tulis profilnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, Mamdani bekerja sebagai konselor perumahan. Sepanjang kariernya ini, dia membantu pemilik rumah berpenghasilan rendah di Queens melawan penggusuran.

Kampanye Mamdani mengedepankan identitasnya sebagai Muslim. Dia secara rutin mengunjungi masjid-masjid sekaligus merilis video berbahasa Urdu tentang krisis biaya hidup di kota New York.

"Kita tahu bahwa tampil sebagai Muslim di muka umum sama saja mengorbankan keamanan yang kadang ditemukan dalam bayangan," ujarnya dalam rapat umum pada musim semi silam.

"Selain Zohran, tidak ada lagi calon yang mewakili isu-isu yang benar-benar saya pedulikan," tutur Jagpreet Singh, direktur politik organisasi keadilan sosial DRUM, kepada BBC.

Mamdani menyebut para pemilih di New York—kota termahal di AS—ingin agar Demokrat fokus pada keterjangkauan harga.

"Di kota ini, satu dari empat penduduk hidup dalam kemiskinan. Selain itu, 500.000 anak di New York tidur dalam keadaan lapar setiap malamnya," ujarnya kepada BBC baru-baru ini.

"Kota New York terancam kehilangan hal yang membuatnya begitu istimewa."

Berikut proposal Mamdani:

  • Layanan bus gratis di seluruh kota;
  • Pembekuan sewa dan akuntabilitas lebih ketat bagi tuan tanah yang lalai;
  • Jaringan toko kelontong milik kota yang berfokus pada keterjangkauan harga;
  • Layanan penitipan anak untuk usia enam minggu hingga lima tahun;
  • Peningkatan tiga kali lipat produksi perumahan dengan stabilisasi sewa yang dibangun serikat pekerja.

Rencana Mamdani juga mencakup "perombakan total" gedung wali kota untuk meminta pertanggungjawaban pemilik properti. Jika terpilih, dia juga akan secara besar-besaran memperluas perumahan yang terjangkau dan permanen .

Dalam kampanyenya, Mamdani mengaitkan paket kebijakan ini dengan gestur visual yang menarik perhatian dan menjadi viral.

Dia menceburkan diri ke Samudra Atlantik untuk mendramatisasi isu pembekuan sewa. Mamdani juga berbuka puasa Ramadan dengan burito di kereta bawah tanah demi menyoroti masalah ketahanan pangan.

Beberapa hari sebelum konvensi Demokrat, Mamdani berjalan kaki menyusuri seluruh Manhattan. Di sela-sela perjalanannya, dia sempat berhenti untuk berswafoto dengan para pemilih.

Meskipun Mamdani bersikeras dirinya mampu membuat New York lebih terjangkau, para kritikus meragukan janji-janji ambisius tersebut.

The New York Times tidak mendukung kandidat mana pun dalam pemilihan pendahuluan wali kota. Secara umum, surat kabar itu justru mengkritik para kandidat.

Dewan redaksi New York Times mengatakan agenda Mamdani "sangat tidak sesuai dengan tantangan kota" dan "mengabaikan pertukaran yang tak terhindarkan dalam tata kelola pemerintahan."

Pembekuan sewa rumah yang diusulkan Mamdani akan membatasi pasokan perumahan, imbuh mereka.

Penulis: Shamsi Ali Al-Nuyorki/BBC


Pilihan Redaksi




Baca Juga

Negeri Pembenci Kristen
Kamis, 25 Desember 2025 15:29 WIB
Hukuman Sadis di Lubang Anus
Rabu, 17 Desember 2025 14:15 WIB